Sabtu, 02 Juli 2022
Perguruan Tinggi

Penyebab dan Gejala Kanker Payudara

Penyebab dan Gejala Kanker Payudara

Bagi siapapun, mendengar kata kanker merupakan hal yang menakutkan. Sebagian banyak orang menganggap penyakit kanker tidak bisa disembuhkan. Namun, apakah benar adanya seperti itu? Topik ini diulas dalam acara Seminar Pengabdian Masyarakat kerjasama Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) dan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) yang diadakan pada Sabtu (18/6) secara daring melalui zoom khusus membahas terkait kanker payudara.

“Kanker payudara terjadi saat sel di jaringan payudara tumbuh abnormal,” jelas dr. Hamzah Sulaiman Lubis Sp.B.Onk(K) klinisi di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

dr. Hamzah memaparkan faktor-faktor yang bisa menimbulkan penyakit seperti penggunaan obat KB hormonal, genetik keluarga, obesitas, dan merokok. Tanda paling khas yang dijumpai pada kanker payudara adalah adanya suatu masa atau benjolan di payudara. Benjolan pada awal stadium biasanya tidak nyeri, namun jika tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi parah. “Waspada jika ada perubahan seperti kulit jeruk di payudara,”tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Hamzah menjelaskan jika pada pasien kanker payudara kulit payudaranya akan memiliki tekstur kasar seperti kulit jeruk. Selain tampak seperti kulit jeruk juga dapat muncul bengkak dan kemerahan. Dapat juga dijumpai cairan abnormal dari payudara, bisa berwarna hijau, merah, maupun hitam. Akan muncul juga kelainan pada puting payudara yang akan tertarik ke dalam.

Ia berpesan kepada masyarakat khususnya perempuan untuk rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Caranya mudah bisa dimulai dengan mengamati payudara sendiri, dilihat apakah kedua sisi simetris. Amati baik-baik bentuk putingnya. Setelahnya bisa diraba untuk melihat adakah benjolan. Benjolan juga bisa muncul di ketiak akibat adanya pembesaran kelenjar getah bening.

Apabila seorang pasien terdiagnosa positif kanker payudara maka harus mendapatkan perawatan yang sesuai. dr. Hamzah menjelaskan salah satu terapi bisa menggunakan radioterapi bagi pasien dengan stadium 3 dan 4. Adanya pembesaran kelenjar getah bening derajat 1-3 dikarenakan derajat kekambuhan yang tinggi. Waktu perawatannya minimal 4-6 minggu selama 4-5 hari sekali. “Jika tumor >5cm dan sudah menyebar maka pilihannya adalah pengambilan seluruh jaringan payudara,” jelasnya.

Untuk itu, dr.Hamzah berpesan pentingnya melakukan SADARI dan juga pemeriksaan dini. Lebih awal dideteksi, maka harapan hidup pasien akan meningkat. Setelah mendapat perawatan nanti pasien juga tetap mendapatkan terapi jangka panjang. Gunanya adalah untuk mengurangi angka kekambuhan di masa mendatang.

Ustadzah Umi Munawiroh S.Sos seorang perempuan yang terdiagnosa kanker payudara juga turut menceritakan pengalamannya saat pertama kali mendapatkan vonis. Awalnya layaknya manusia biasa dia tidak bisa menerima penyakit tersebut. Rasa penolakan akhirnya membuat dirinya marah dan berakhir depresi. Namun, berkat keyakinan diri dan dukungan keluarga akhirnya bisa menerima. Dia mengambil hikmah dari penyakitnya tersebut lewat sabar dan syukur. (UAH/RS)