Rabu, 05 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

Presiden Leiden University Paparkan 5 Isu Pengembangan Reputasi Akademik

Presiden Leiden University Paparkan 5 Isu Pengembangan Reputasi Akademik

[Kanal Media Unpad] Presiden Leiden University, Belanda, Prof. Annetje Ottow mengatakan, dalam upaya mengembangkan perguruan tinggi berkelas internasional, adaptasi, inovasi, dan menjalin jejaring menjadi kata kunci untuk mewujudkan diri menjadi perguruan tinggi berkelas internasional.

“Beradaptasi terhadap kebutuhan dari perubahan dalam masyarakat dan berinovasi dalam pengajaran dan penelitian,” kata Prof. Ottow saat menyampaikan orasi ilmiah “Strategy to Improve Academic Reputation and Internationalization of Higher Education in Digital Era 5.0” pada Upacara Lustrum XIII Universitas Padjadjaran yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Minggu (11/9/2022).

Dalam orasi ilmiah tersebut, Prof. Ottow memaparkan apa yang telah dilakukan Leiden University hingga menjadi perguruan tinggi berkelas internasional. Kendati demikian, setiap perguruan tinggi memiliki strategi pengembangan tersendiri karena beroperasi dalam konteks sosial budaya yang berbeda.

Meski begitu, ada lima isu yang berkaitan erat dengan pengembangan reputasi akademik menuju perguruan tinggi berkelas dunia menurut observasi Prof. Ottow. Isu pertama yang disampaikan adalah pengarusutamaan riset fundamental.

Di Leiden sendiri, kata Prof. Ottow, berfokus pada riset fundamental yang membawa inovasi dan di sisi lain juga pada komersialisasi, industrialisasi, dan aplikatif.

“Kami mencoba memberikan solusi untuk memecahkan masalah di masyarakat dan membantu meningkatkan pendapatan industri. Namun juga perlu melihat bagaimana kami dapat memulainya dari awal dan memastikan bahwa inovasi memiliki tempat di lingkungan riset fundamental,” paparnya.

Menurut Prof. Ottow, upaya ini untuk memastikan bahwa akademisi benar-benar dapat menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan dunia dengan baik.

Isu kedua adalah peran sosial kemasyarakatan. Perguruan tinggi merupakan bagian intrinsik yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Dalam hal ini, Prof. Ottow mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang dilakukan perguruan tinggi Indonesia. Program ini memungkinkan perguruan tinggi memberikan solusi langsung terhadap permasalahan di masyarakat.

“Kami dapat belajar banyak dari tradisi baik di (perguruan tinggi) Indonesia tersebut,” tuturnya.

Isu ketiga adalah keterikatan regional menghadapi internasionalisasi. Prof. Ottow mengatakan, internasionalisasi perguruan tinggi tidak mungkin terlaksana jika tidak didasari regional yang kuat.

“Sebuah perguruan tinggi memerlukan ikatan kuat dengan komunitas lokal dan struktur organisasi regional,” kata Prof. Ottow.

Presiden perempuan pertama di Leiden University tersebut menuturkan, melalui keterikatan ini, program pengajaran dan penelitian harus terkait dengan kebutuhan profesional dan ekonomi daerah. Keahlian spesifik yang dikembangkan perguruan tinggi harus memiliki nilai tambah bagi mitra atau masyarakat di daerah.

Isu keempat adalah pengembangan bakat versus “pabrik gelar”. Menurut Prof Ottow, apabila perguruan tinggi hanya sekadar pemberi gelar akademik kepada lulusannya, hal tersebut tidak akan menjamin kepada peningkatan reputasi akademiknya. Selain itu, juga tidak akan menjadi daya tarik mitra kolaborasi internasional.

“Di Leiden, itu menjadi tanggung jawab kami untuk menawarkan kepada mahasiswa dan staf kami lingkungan yang terbaik untuk mereka mengembangkan potensi secara penuh. Kami memastikan bahwa ‘orang baik akan membangun universitas yang baik’,” tuturnya.

Isu terakhir yang disampaikan adalah kemerdekaan akademik. Prof. Ottow menegaskan, tanpa kemerdekaan akademik, tidak akan ada progres untuk membangun reputasi.*