Kamis, 06 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

FPIK Unpad Gelar Summer Program, Bahas Blue Economy

FPIK Unpad Gelar Summer Program, Bahas Blue Economy

[Kanal Media Unpad] Sekira 150 peserta dari 7 negara mengikuti Summer Program Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran yang diselenggarakan pada 12-18 September 2022. Summer Program ini mengangkat tema “The Global Strategy of Blue Economy: Challenge, Potential, and Development”.

Dekan FPIK Unpad Dr. sc.agr. Yudi Nurul Ihsan, S.Pi., M.Si., mengatakan bahwa blue economy dipercaya akan menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi di masa depan. Melalui acara tersebut diharapkan akan terjalin diskusi bagaimana mengelola lautan untuk keberlanjutan.

“Kita akan diskusi bagaimana mengelola lautan kita dan menerapkan keberlanjutan ekonomi dari sumber daya kelautan yang akan menjadi masa depan pertumbuhan ekonomi,” kata Dr. Yudi dalam pembukaan Summer Program FPIK yang digelar secara hybrid dari Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Senin (12/9/2022).

Acara pembukaan Summer Program tersebut juga digelar sebagai kuliah perdana mahasiswa FPIK Unpad.

Acara Summer Program secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dr., SpM(K), M.Kes., PhD. Prof. Arief mengatakan bahwa pengelolaan lingkungan secara keberlanjutan sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok Unpad “Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dalam Pembangunan Nasional”.

“Kami percaya bahwa pemanfaatan laut dengan sumber dayanya harus sejalan dengan bagaimana kita menyelamatkan lingkungan,” kata Prof. Arief.

Acara tersebut menghadirkan keynote speaker mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Ir. H Sarwono Kusumaatmadja. Sarwono menyebutkan bahwa perubahan iklim menimbulkan berbagai hal yangt idak menyenangkan, bahkan di luar prediksi sebelumnya.

Namun dalam menghadapi krisis, yang perlu dilakukan adalah menciptakan peluang. Solusi yang diperlukan pun adalah solusi berbasis alam.

Menurut Sarwono, dalam blue economy, setidaknya perlu diperhatikan tiga hal, yaitu: pangan, air, dan energi.

“Intinya tiga prioritas yang harus kita pegang, yaitu pangan, air, dan energi. Kalau tiga ini kita bisa pegang, kita sukseskan, Insya Allah kita bisa survive,” kata Sarwono.

Sarwono mengatakan, penerapan tiga prioritas tersebut harus mulai dilakukan di tingkat paling bawah, bukan di institusi besar.

“Di tingkat sebawah mungkin ini harus dilakukan, bukan di institusi besar atau perkasa,” ujarnya.

Sarwono pun meilihat bahwa saat ini generasi muda Indonesia telah giat menciptakan alternatif di berbagai bidang.

“Kaum muda Indonesia sangat giat menciptakan alternatif-alternatif di segala bidang termasuk bidang lingkungan hidup dan adaptasi climate change yang termasuk dalam manajemen dari pangan, air, dan energi. Jadi mungkin itu harus dipelajari lebih lanjut,” kata Sarwono.(arm)*