Kamis, 29 September 2022
Perguruan Tinggi

Pemanfaatan Teknologi Terapan untuk Kemajuan Gerakan Ramah Lingkungan Global

Pemanfaatan Teknologi Terapan untuk Kemajuan Gerakan Ramah Lingkungan Global

Sherly Annavita Rahmi, S.Sos., M.SIPh. narasumber pada acara Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Humas UAD)

“Berbicara tentang muda, kita bicara tentang cara berpikir dan pilihan sikap. Kita ingin melihat ke depan dengan harapan atau dengan keputusasaan. Kita ingin terus-terusan menyalahkan keadaan yang di luar kemampuan kita untuk mengontrolnya atau kita cenderung melihat apa yang bisa kita lakukan. Berbicara tentang muda, otomatis berbicara juga mengenai masa depan.”

Kutipan itu merupakan salah satu hal yang disampaikan oleh Sherly Annavita Rahmi, S.Sos., M.SIPh., seorang millenial influencer pada Opening Ceremony Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa, 13 September 2022.

Sherly menyampaikan mengenai pemanfaatan teknologi terapan untuk kemajuan gerakan ramah lingkungan global. Masa depan adalah milik mereka, untuk yang mau mempersiapkan hari ini. Hal yang perlu dipersiapkan anak muda yaitu cara kerja keras, kerja cerdas, dan kerja cepat. Kerja cepat sangat perlu dilakukan, mengingat saat ini sudah memasuki Era Industri 5.0 yang mana satu dari empat kata kuncinya adalah kecepatan. Sekarang zaman terbuka bukan hanya bagi yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat akan mengalahkan yang besar.

“Lalu apa yang perlu disiapkan? Apa pun jurusan yang teman-teman mahasiswa ambil sekarang, apa pun passionskill, target yang dimiliki, apa pun tujuan kita ke depan, sebetulnya cara berpikir kita dibedakan menjadi empat tipe manusia dalam melihat masa depan. Pertama, tipe manusia yang pesimis. Kedua, manusia yang realistis, mereka senang dibentuk oleh lingkungan dan senang mendengar narasi orang bukan mereka yang menciptakan narasi untuk didengarkan orang lain. Ketiga, tipe manusia yang optimis. Keempat, tipe manusia yang progresif,” papar Sherly.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa anak muda tidak perlu usaha apa pun, tetapi minimal mempunyai tiga modal. Modal tersebut adalah syarat kunci untuk terjadinya perubahan. Syarat tersebut adalah energi yang besar, waktu anak muda masih sangat luas, keingintahuan terhadap sesuatu masih sangat tinggi, dan anak muda senang untuk melawan arus.

Terakhir, Sherly berpesan sangat penting menjaga mekanisme pertahanan diri untuk selalu “keep on the track” sehingga kita tahu apa yang ingin kita lakukan. “Kalau kita tidak bisa mengukur sesuatu, sulit bagi kita untuk mengimprovisasinya. Kita semua mungkin mempunyai alat ukur yang berbeda, tidak masalah. Miliki alat ukur teman-teman sendiri sehingga kita akan terus berproses dan bertumbuh. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini.” (frd)

uad.ac.id