Rabu, 05 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

UII Turut Serukan Pemilu Berkualitas dan Demokrasi Bermartabat

UII Turut Serukan Pemilu Berkualitas dan Demokrasi Bermartabat

Universitas Islam Indonesia (UII) turut bergabung dalam aksi Seruan Moral menuntut Pemilihan Umum (Pemilu) Berkualitas dan Demokrasi Bermartabat, di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Sabtu (17/9). Seruan moral ini merupakan hasil diskusi dan kajian dari 32 rektor/pemimpin perguruan tinggi negeri. dan swasta di D.I. Yogyakata menyambut digelarnya Pemilu pada 2024 mendatang.

Tampak hadir di antaranya rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med., Ed., Sp.OG(K), Ph.D., rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Prof. Dr. phil. Al Makin, S.Ag., M.A., dan rektor Universitas Widya Mataram, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.

Demokrasi secara nasional pada pelaksanaan Pemilu dinilai sebagai aktualisasi nilai, perjuangan kebangsaan dan pembentukan konsensus demokrasi yang mulia. Oleh karena itu rektor/pimpinan perguruan tinggi di D.I. Yogyakarta menyampaikan pendapat yang dituangkan dalam 10 poin seruan moral.

Seruan moral yang dibacakan oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med., Ed., Sp.OG(K), Ph.D. di antaranya yakni ajakan komponen bangsa untuk menjadikan Pemilu sebagai pendidikan politik, menjamin Pemilu berjalan secara partisipatif bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa adanya monopoli. Selain itu dalam seruan moral juga mengajak seluruh civitas akademika, masyarakat sipil, dan media massa untuk berperan aktif dalam edukasi politik dan literasi kebangsaan.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr.phil. Al Makin, S.Ag., M.A. berharap seruan tersebut dapat mengembalikan fungsi demokrasi di Indonesia. Mengembalikan fungsi dari demokrasi agar proses check and balance, dan juga kembali kepada moralitas awal bagaimana negara ini dulu didirikan.

“Jadi sudah banyak sekali kritik dari para ilmuwan, kritik dari para komentator, kritik dari para yang bijaksana tentang proses demokrasi yang perlu dipikirkan lagi lebih mendalam untuk kembali kepada moral, integritas dan kejujuran. Itu yang perlu ditegaskan,” tuturnya. (LY/RS)