Kamis, 29 September 2022
Sekolah Menengah Atas

SMAN 1 NARMADA MENUJU SEKOLAH BERBUDAYA DALAM FILOSOFI TRADISI NGANDANG DULANG (BEGIBUNG).

SMAN 1 NARMADA MENUJU SEKOLAH BERBUDAYA DALAM FILOSOFI  TRADISI NGANDANG DULANG (BEGIBUNG).

SEJARAH TRADISI BEGIBUNG (NGANDANG DULANG) KAJIAN MENUJU SEKOLAH BERBUDAYA SMAN 1 NARMADA

Editor : ABI

A. Abstraksi Tradisi Begibung

Tradisi “Begibung” adalah sebuah trasdisi makan bersama bagi masyarakat Sasak, Pulau Lombok. Begibung ini biasanya dilakukan pada acara Rowah/begawe. 

Penyajian makanan dalam Begibung menggunakan nampan atau “nare” dalam bahasa sasak, di atasnya ditaruh nasi dalam jumlah yang cukup banyak beserta dengan lauk pauknya yang terdiri dari sayuran dan daging dengan bumbu khas sasak. Sajian itu disebut “Dulang”. Dulang itu diletakkan secara berjajar membentuk barisan dengan jumlah sebanyak tamu yang akan diundang. Kemudian satu dulang akan dinikmati bersama 3 atau 4 orang. 

Setelah kegiatan atau acara selesai, kemudian makanan yang tersaji dalam dulang itu dimakan bersama. Menariknya, makanan dalam dulang tak boleh dihabiskan, harus bersisa untuk kemudian dibagi bersama dan dibawa pulang yang kemudian disebut “Berkat”. Biasanya alat pembungkus berkat ini sudah disiapkan oleh yang mengadakan “roah” (Pemilik acara) yang diletakkan di dalam dulang, alat pembungkusnya adalah dari daun pisang atau tas kresek.

B. Filosofi Begibung atau Ngandang Dulang

Secara filosofi, Ngandang Dulang berasal dari dua kata yang diambil dari bahasa Sasak dialek Ngeno-Ngene, yakni ngandang dan dulangNgandang memliki arti ‘menghadap sesuatu dengan posisi duduk bersila’ dan dulang memiliki arti ‘tempat/wadah yang berisi sejumlah makanan.’ Oleh karena itu, ngandang dulang secara harfiahnya dapat diartikan sebagai ‘kegiatan bersila di hadapan makanan’. Cara duduk dengan bersila merupakan cara duduk paling sopan dalam masyarakat suku Sasak. Adapun cara duduk lain yang kurang sopan ialah jengkeng ‘jongkok’. Cara duduk ini menggambarkan tingkat kesopansatunan dalam kehidupan sosial masyarakat suku Sasak. Sikap duduk bersila menggambarkan sikap hidup masyarakat suku Sasak yang sangat menghormati rezeki yang diturunkan oleh Tuhan, dalam hal ini, makanan. 

Selain itu, ngandang dulang juga seringkali diselenggarakan di masjid yang diawali dengan berzikir bersama sebelum menyantap hidangan dalam dulang. Hal ini merupakan satu sikap hidup religious masyarakat Sasak dalam tradisi syukuran (begawe) dalam makna lainnya. Berzikir dan berdoa bersama merupakan satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki dan umur panjang bagi setiap warga yang menghadiri ngandang dulang tersebut. 

C. Pesajik Sebagai Tradisi Sopan Santun Ngandang Dulang

Duduk bersila atau dalam cara lain bejengkeng (Jongkok) bersama sebelum pada akhirnya menyantap makanan dalam dulang merupakan rangkaian kegiatan dalam ngandang dulang. Rangkaian kegiatan lainnya dimulai dengan kedatangan para ibu rumah tangga atau perempuan dengan menyunggi dulang di atas kepala mereka. Hal ini mencerminkan satu kepribadian atau sikap para perempuan yang mendiami sebuah tempat tinggal yang ada di dusun atau desa, yakni sikap kemandirian hidup dan tentu sikap menghargai rezeki, dalam hal ini, makanan. Kepala merupakan organ tubuh yang letaknya dan mempunyai prestise paling tinggi dalam organ manusia. Sikap yang ditunjukkan dengan menyunggi dulang menunjukkan sikap yang sangat menghormati rezeki sebagai salah satu bentuk anugerah Tuhan Yang Maha Esa.  

Kehadiran para perempuan Sasak dengan menyunggi dulang di atas kepalanya telah ditunggu oleh sejumlah remaja di pelataran tempat acara. Para remaja tersebut kemudian membantu mereka menurunkan dulang dari atas kepala mereka. Satu nilai yang dapat diperoleh dari proses tersebut ialah nilai gotong royong yang telah diajarkan sejak lahir dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dulang yang telah diambil oleh para remaja kemudian ditata sedemikian rupa pada lantai tempat dulang akan disajikan. Nilai atau sikap lainnya yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu nilai atau sikap disiplin. Sikap atau nilai disiplin ini tercermin pada perilaku menghargai waktu yang menjadi nilai atau sikap hidup masyarakat suku Sasak yang tinggal di Dusun maupun Desa yang notabennya telah diwariskan dalam tradisi ngandang dulang. Dalam tradisi ngandang dulang, anak-anak, remaja, dan para lelaki dewasa hadir sebelum acara dimulai. Mereka duduk bersila bersama-sama dan memulai acara setelah terlebih dahulu memastikan bahwa tidak ada lagi barisan dulang yang tanpa anak-anak, remaja, atau lelaki dewasa di hadapannya. Pelaksanaan tradisi ngandang dulang yang diselenggarakan dua kali dalam setahun  tersebut tidak memakai ukuran waktu mulainya. Namun, apabila telah dilantunkan ayat-ayat suci ataupun mekayat dan lain sebagainya yang menandakan tradisi dalam acara telah dimulai, tidak akan ada lagi masyarakat yang datang terlambat apalagi muncul ketika acara telah usai. 

D. Nilai-Nilai Kesetaraan dalam Ngandang Dulang

Nilai lainnya ialah kesetaraan sosial. Nilai ini tampak pada tempat bersila atau posisi duduk para warga yang hadir di dalam acara. Tidak ada satu pun warga yang diistimewakan dalam acara ngandang dulang. Semua warga menempati posisi duduk yang sama, tidak ada warga yang posisi duduknya lebih tinggi daripada warga lain. Posisi duduk yang lebih tinggi atau dikhususkan dalam suatu ruang merupakan bentuk ketidaksetaraan sosial dalam suatu masyarakat. Dalam acara ngandang dulang, tidak ada warga yang memakai tikar dan tidak diperbolehkan membawa dari rumah masing-masing. Semua warga duduk di lantai masjid. Demikian juga dengan dulang-nya, dulang yang diterima ustaz atau kiai yang memimpin doa juga tidak dikhususkan. Dulang dari warga diatur secara acak dan ustaz atau kiai yang memimpin zikir tidak diizinkan untuk memilih dulang sesuai dengan kemauannya sendiri.  

Sikap lainnya yang ditunjukkan dalam tradisi ngandang dulang, yakni sikap tanggung jawab. Tanggung jawab dalam ngandang dulang terlihat ketika anak-anak, remaja, dan para lelaki dewasa yang mengikuti acara itu selalu menjaga piring dan mangkuk agar tidak tertukar dengan piring dan mangkuk yang ada pada dulang lainnya. Lebih dari itu, ketika menyantap makanan dalam dulang, para pelaku yang melakoni tradisi ngandang dulang juga menjaga agar lantai tempat begibung selalau bersih. Sikap tanggung jawab lainnya juga ditunjukkan oleh para remaja lainnya yang menjaga dulang-dulang agar tetap terjaga dan aman sampai si pemilik (perempuan Sasak) dulang datang untuk mengambilnya kembali. Selebihnya, tradisi ngandang dulang merupakan tradisi yang mengedepankan sikap hidup kebersamaan dan kesetaraan masyarakat suku Sasak. 

E. Nilai Pendidikan Karakter Ngandang Dulang Sebagai Bagian Budaya Bangsa

Tradisi ngandang dulang merupakan tradisi yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut tidak hanya didapatkan di bangku sekolah, tetapi nilai-nilai pendidikan karakter pada dasarnya telah terlebih dahulu diwariskan oleh para leluhur Nusantara melalui beragam tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokalnya, salah satunya tradisi ngandang dulang dengan sejumlah nilai yang telah dijelaskan sebelumnya. 

Bukan hanya mencerminkan nilai-nilai keluhuran, melainkan tradisi, adat istiadat, dan budaya juga merupakan identitas bangsa yang sudah sepantasnya dijaga agar tidak terkikis zaman sehingga yang sakral tetaplah sakral. Satu kemungkinan yang dapat diterapkan dalam penanaman nilai lokalitas tersebut ialah dengan menarik lokalitas daerah masing-masing ke dalam dunia pendidikan. Misalnya, dalam pelajaran muatan lokal di sekolah dasar. Mata pelajaran muatan lokal hendaknya disesuaikan dengan daerah masing-masing. 

F. Penutup

Pemeliharaan dan pendayagunaan tradisi, budaya, dan adat istiadat juga perlu dipertimbangkan. Hal yang sangat mungkin dilakukan ialah dengan membuat pergelaran atau pertunjukan wisata berbasis budaya, tradisi, dan adat istiadat sesuai dengan daerah masing-masing Misalnya, pergelaran atau pertunjukan tradisi ngandang dulang dilakukan dua kali setahun sebagai penarik minat dan sebagai daya jual di bidang pariwisata. Termasuk dalam kegiatan “Pagelaran Budaya Ngandang Dulang di SMAN 1 Narmada” Kali ini. Tentu semuanya akan terealisasi dengan adanya kerja sama seluruh pihak terkait, baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat maupun para tokoh pemuda. Dengan demikian, budaya di setiap daerah bukan hanya menjadi barang warisan yang berdebu, melainkan dapat bernilai ekonomis yang tinggi dan menjadi salah satu pemasukan bagi masyarakat, bahkan daerah. Terakhir, yang sangat mungkin dapat dilakukan ialah dengan memanfaatkan perkembangan zaman yang serba cepat sebagai upaya penyebaran informasi ke seluruh dunia tentang budaya, adat istiadat, dan tradisi yang ada di setiap daerah, khususnya tradisi ngandang dulang dalam tradisi Masyarakat Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat. 

Sumber Rujukan :

  1. Kamarudin lalu (2021)_Jurnal Budaya Sasak Lombok Sebagai Upaya Melestarikan Nilai Religius Dan Jati Diri Masyarakat Montong Baan Kecamatan Sikur Lombok Timur
  2. Dulang Pesajiq (2021) Ritual Budaya Masyarakat Lombok NTB
https://budaya-indonesia.org/dulang-pesajiq
  • Hilmi, S.Hubbi_ Kantor Pusat Bahasa dan Budaya_
https://kantorbahasasultra.kemdikbud.go.id/berita-budaya-ngandang-dulang.html.
  • Putra febriang (2022)_ akna Begibung dalam Tradisi Sasak_
https://www.kompasiana.com/yandi12/5704618b6423bd52048b4569/tradisi-begibung-masyarakat-suku-sasak

5.  Mulyadi Lalu, Ir., MTA., Dr. (2014)_Buku Sejarah Gumi Sasak Lombok_ Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional Malang.