Minggu, 02 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

PKR Biomassa dan Biorefineri Unpad Gelar Seminar Kolaborasi Riset Pangan dan Energi

PKR Biomassa dan Biorefineri Unpad Gelar Seminar Kolaborasi Riset Pangan dan Energi

[Kanal Media Unpad] Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biomassa dan Biorefineri Universitas Padjadjaran menggelar Seminar Kolaborasi seri ke-5 yang digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-17 Fakultas Teknologi Industri Pertanian dan Lustrum XIII Unpad, Rabu (14/9/2022).

Mengusung tema “Bangkit Lebih Kuat dengan Kolaborasi Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Energi”, Dekan FTIP Unpad Dr. Sarifah Nurjanah, M.Sc.App., menyampaikan beragam tantangan di bidang pangan dan energi yang diharapkan dapat dicarikan solusinya melalui seminar kolaborasi ini.

Dalam rilis yang diterima Kanal Media Unpad, Sarifah mengatakan bahwa tantangan di bidang pangan yang muncul meliputi perubahan selera makan, perubahan pola konsumsi pangan yang menunjang kesehatan, hingga munculnya inovasi produk pangan baru selama pandemi.

“Sedangkan di bidang energi kita ditantang untuk memilih bahan baku yang tepat, khususnya biomassa ini dinilai sangat tepat karena tidak bersinggungan dengan bahan baku pangan dan tantangan lainnya adalah kajian mengenai teknologi ramah lingkungan dan tepat guna untuk produksi energi terbarukan,” ucapnya.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan Unpad dan BRIN. Narasumber dari Unpad yaitu: Dr. Herlina Marta (FTIP), Dr. Muhamad Fatah Wiyatna (Fapet), dan Hana Nur Fitriana, Ph.D., (FTIP).

Sementara narasumber dari BRIN meliputi Prof. Dr. Euis Hermiati (PRBB – BRIN), Dr. Awalina (PR Limnologi dan SDA – BRIN), dan Roni Maryana, Ph.D. (PR Kimia Maju – BRIN).

Paparan pertama, Herlina membahas mengenai pati termodifikasi hidrotermal dan aplikasinya pada bidang pangan. Menurutnya, pati termodifikasi di Indonesia saat ini masih harus impor dengan harga yang cukup fantastis. Padahal, Indonesia memiliki sumber pati yang sangat melimpah.

“Sumber pati di Indonesia ini sangat melimpah, beberapa di antaranya dapat dihasilkan dari sukun, hanjeli, dan singkong sebagai potensi lokal kita dengan proses yang efisien,” ujarnya.

Metode fisik seperti metode hidrotermal dalam proses modifikasi juga memiliki kelebihan karena prosesnya yang ramah lingkungan dan tidak menghasilkan produk sampingan yang berbahaya.

Paparan dilanjutkan Prof. Euis Hermiati dari BRIN. Ia menyebutkan bahwa target Indonesia pada 2025 adalah mampu menggunakan 23 persen energu baru dan terbarukan dari total kebutuhan energi nasional.

Sesi pertama seminar ditutup dengan paparan Awalina yang merupakan ahli dan pakar mikroalga. Awalina melakukan penelitian dalam rancang bangun teknologi fotobioreaktor dengan biaya efektif untuk memproduksi biomassa mikroalga.

“Konsep biorefineri dapat diwujudkan dalam pengembangan mikroalga karena dapat dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan seperti pangan, pakan, dan bioenergi serta menjadi salah satu wujud nyata dari praktik green industry,” ujarnya.

Sesi kedua, Dr. Muhammad Fatah Wiyatna memaparkan konsep biomethagreen yang dikembangkannya. Dari konsep ini, sekitar 25 kilogram biomassa limbah organik dapat terkonversi menjadi 6,1 kWh listrik dengan efisiensi mencapai 35 persen.

Ia pun mengajak peserta untuk berkolaborasi dalam mengembangkan pemurnian biogas agar didapat cara praktis dengan perawatan yang mudah, serta mengembangan biodigester berbahan baku limbah pada septik tank sebagai alternatif limbah organik.

Usai Fatah, paparan dilanjutkan Hana Nur Fitriana, dosen FTIP yang saat ini tengah melakukan penelitian post-doctoral di BRIN. Ia menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan ketika penelitian doktornya, yaitu: stimulasi listrik menjadi teknologi dan metode terbaru yang ramah lingkungan bisa diterapkan di masa depan.

Paparan terakhir disampaikan Roni Maryana yang menjelaskan mengenai kepakarannya dalam produksi bioetanol. Roni melakukan penelitian mengenai pemanfaatan tandan kosong sawit yang merupakan limbah biomassa dari komoditas terbesar di Indonesia sebagai bahan baku produksi bioetanol.

Tidak hanya menyampaikan paparan, seminar ini diharapkan dapat memupuk kolaborasi. Hal ini terlihat dari antusiasme sejumlah pembicara yang tertarik melakukan kolaborasi riset dengan pembicara lainnya. (rilis)*