Selasa, 27 September 2022
Perguruan Tinggi

Kisah Salimah, Raih Beasiswa Kuliah Fakultas Kedokteran UII Berkat Hafiz Qur’an

Kisah Salimah, Raih Beasiswa Kuliah Fakultas Kedokteran UII Berkat Hafiz Qur’an

Kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) bisa jadi impian sebagian besar para pelajar. Sebab selain ditunjang fasilitas yang lengkap, FK UII juga telah mengantongi akreditasi A. Impian ini berhasil diraih oleh Salimah Syahidah, mahasiswa baru FK UII penerima beasiswa Hafiz Al-Qur’an di UII. Sebagai seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz, mahasiswi dari Provinsi Banten tersebut berhak memperoleh beasiswa secara penuh selama empat tahun di UII. Setiap tahunnya, UII memang membuka program beasiswa tersebut dan Salimah adalah salah satu penerimanya.

Dikisahkan Salimah, ia meyakini janji Allah Swt. yang akan memuliakan penghafal Al-Qur’an. Tidak hanya di akhirat namun juga di dunia. Ia mengakui bahwa keberhasilannya tersebut tidak lepas dari peran orang tuanya yang sudah menanamkan rasa cinta Al-Qur’an sejak dini. 

Sedari kecil Salimah sudah dibiasakan untuk mendengarkan dan membaca Al-Qur’an. Kebiasaan itulah yang membuatnya ingin menjadi seorang hafizah sejak kecil. “Pertama kali menghafal saat sekolah menengah pertama,” tutur Salimah.

Selepas dari lulus sekolah menengah pertama tersebut, Salimah berhasil mengantongi hafalan sebanyak 18 juz. Melalui proses yang tidak mudah di antara kesibukan akademik, Salimah terus menambah hafalan setiap hari. 

Seperti halnya seorang siswi pada umumnya, tentu ia pun punya keinginan meluangkan waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Namun, keinginan itu tidak selalu bisa diturutinya karena kesibukan menghafal Al-Qur’an yang membutuhkan komitmen tinggi. “Jadi, saat teman-teman asyik bermain saya terus mengaji Al-Qur’an,” ceritanya.

Salimah sedikit berbagi tips bagaimana mengatasi rasa jenuh saat menghafal Al-Qur’an. Solusi untuk mengatasinya cukup unik, yakni dengan rehat sejenak dan mengobrol hal-hal menarik dengan teman-temannya. Selain itu, Salimah juga mencari lingkaran pertemanan yang sehat (circle). Baginya lingkaran pertemanan sangat berpengaruh terhadap apa yang Salimah lakukan.

Niatkan Semua untuk Allah Swt.

Pada saat memasuki kelas tiga SMA, ia memiliki tantangan baru dalam hidupnya untuk mempersiapkan ujian masuk kuliah. Di sinilah ketekunan dan kesabarannya benar-benar diuji oleh Allah Swt. Ujian masuk kuliah kedokteran bukanlah hal mudah sehingga ia butuh banyak latihan soal dan membaca materi. Di waktu yang sama, Salimah juga berkutat mempersiapkan ujian hafalannya sebagai seorang hafizah. 

“Niatkan semua untuk Allah Swt.” adalah kalimat yang selalu Salimah ingat dan pegang setiap harinya. Salimah terus meningkatkan kualitas hafalannya dengan minimal sehari murojaah (mengulang hafalan) 5 juz. Ketekunan ini pada akhirnya membuahkan hasil, namun hal tersebut tidak membuatnya sombong. “Semua yang terjadi pada hidup saya adalah karena Allah Swt.,” katanya dengan amat rendah hati.

Selain itu, bagi Salimah keberhasilannya tak lepas dari doa dan ridha orang tua. Diketahui Salimah merupakan calon dokter dan penghafal Al-Qur’an pertama di keluarganya. Tentu, hal tersebut menjadi kebanggan dan rasa syukur tersendiri.

Salimah juga menceritakan perjuangan orang tuanya untuk membantu ujian beasiswa Hafiz UII, ”Sebelum ujian, umi dan abi mengajak saya ke Puncak (Bogor, red.) untuk menyiapkan ujian,” tuturnya. Selama di Puncak, kedua orang tuanya membantu menyimak hafalan Salimah. Sampai saat ini, Salimah setiap hari rutin menyetorkan hafalan ke ibundanya. (UAH/ESP)