Rabu, 05 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

UNJA dan AJI Adakan Pelatihan Cek Fakta Menangkal Berita Hoaks

UNJA dan AJI Adakan Pelatihan Cek Fakta Menangkal Berita Hoaks

MENDALO,- Universitas Jambi (UNJA) dan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mengadakan Pelatihan Cek Fakta untuk Menangkal Berita Hoaks. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Petuah Gedung Rektorat Lantai III UNJA Mendalo. Kegiatan pelatihan menghadirkan dua orang narasumber yaitu Ahmad Riki Sufrian selaku Ketua AJI dan Siti Masnidar selaku Pemred Jambiberita.com sekaligus Komisioner KIP Jambi. Kegiatan dihadiri oleh staf HUMAS UNJA, Silvia Yuliansari dengan peserta pelatihan sebanyak 20 orang mahasiswa, Senin, (19/9/2022).

Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan merupakan kegiatan yang sangat penting karena sejalan dengan visi HUMAS UNJA yaitu ‘Responsif Mengelola Reputasi Universitas Jambi menuju World Class Entrepreneurship University’. Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara HUMAS UNJA dengan AJI.

Adapun materi pelatihan terbagi menjadi enam sesi, sesi pertama membahas mengenai ‘Landscape Hoaks dan Peran Media’, sesi kedua membahas mengenai ‘Dismiss-informasi dan Dampaknya’. Sesi ketiga, membahas mengenai ‘Penelusuran Konten Asli dan Analisis Sumber’, sesi keempat membahas mengenai ‘Audit Media Sosial’, sesi kelima membahas mengenai ‘Verifikasi Lokasi’, seta sesi keenam membahas mengenai ‘Etika Pengecekan Fakta’.

Silvia Yuliansari menyampaikan pentingnya kegiatan ini dalam mengedukasi mahasiswa mengenai dampak buruk berita hoaks.

“Saya berharap kegiatan ini dapat mengedukasi khususnya adik-adik mahasiswa untuk bisa terhindar dari dampak buruk berita hoaks, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa berita hoaks ini sudah sangat menjamur di masyarakat,” tambah Silvia.

Sementara itu, Ketua AJI, Ahmad Riki Sufrian, menyampaikan pentingnya perang melawan disinformasi, karena di era digitalisasi saat ini makin banyak sekali orang yang termakan berita hoaks.

“Kita perlu sangatlah paham mengenai upaya-upaya melawan disinformasi, karena di era sekarang ini orang lebih cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya, seseorang memang sudah setuju terhadap kelompok, produk, atau kebijakan tertentu, sehingga ketika ada informasi yang dapat mengafirmasikan opini tentang hal tersebut mereka akan cenderung percaya,” ujar Ahmad.

Beliau juga menambahkan harapan atas terselenggaranya pelatihan yang dilaksanakan pada hari ini.

“Saya berharap dengan adanya pelatihan ini adik-adik mahasiswa mampu paham dan mengenal beragam jenis disinformasi dan cara menyikapinya. Selain itu, harapan saya kedepannya adik-adik mahasiswa secara terkhusus mampu melakukan verifikasi mandiri atas informasi-informasi yang meragukan,” tutup Ahmad.

Dimas Anugrah Adiyadmo / Ilham Rifiansyah / HUMAS