Selasa, 27 September 2022
Perguruan Tinggi

Beri Penyuluhan Kesehatan Bagi Remaja di Banyuwangi, FF UI Berkolaborasi dengan FK UI

Beri Penyuluhan Kesehatan Bagi Remaja di Banyuwangi, FF UI Berkolaborasi dengan FK UI

Tayangan informasi yang kian terbuka melalui internet—termasuk tontonan dewasa—didukung waktu luang selama pembelajaran online, menyebabkan remaja memerlukan panduan dalam memahami informasi yang beredar di internet, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja.

Berdasarkan hal itu, tim pengabdian masyarakat (pengmas) Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Fakultas Farmasi (FF) dan Fakultas Kedokteran (FK) tergerak untuk berkolaborasi mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja dan pelatihan kepada anggota Palang Merah Remaja (PMR) di SMPN 1 Cluring, Banyuwangi, pada Agustus lalu.

“Isu-isu kesehatan yang perlu dipahami oleh masyarakat, di antaranya kesehatan reproduksi, gizi, kebersihan diri dan sanitasi, kekerasan dan cedera NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif), Infeksi Menular Seksual (IMS), Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dan penyakit menular lainnya, serta penyakit tidak menular serta kesehatan mental,” ujar Dr. apt. Anton Bahtiar, M.Biomed, Ketua Pengmas yang juga dosen di FF UI.

Dr. Anton menekankan pentingnya menjaga hubungan kedekatan pertemanan antara murid laki-laki dan murid perempuan agar terhindar dari perbuatan di luar batas dan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, penyakit infeksi menular seksual, sampai HIV dan AIDS. Selain kesehatan reproduksi pada remaja, pemaparannya terkait juga dengan kebersihan makanan terutama jajanan di sekolah.

Berdasarkan temuan yang dilakukan pada beberapa makanan tersebut, didapat hasil yang positif bahwa ada yang mengandung boraks (pada jajanan bleng dan kerupuk gendar). Tim pengmas melakukan pengecekan menggunakan bunga ruella.

Bunga ini banyak tumbuh di halaman SMPN 1 Cluring, sehingga menjadi ide bagi tim kami untuk memberikan pengetahuan cara deteksi boraks pada makanan atau jajanan dengan cara sederhana dan mudah diaplikasikan oleh murid-murid SMPN 1 Cluring,” kata Dr. Ade Arsianti, S.Si., M.Si., pengabdi yang juga dosen FK UI.

Ia menyampaikan, bila boraks dikonsumsi dapat mengakibatkan gangguan fisik dan kesehatan, seperti sakit perut, pusing, mual, batuk, sakit tenggorokan, diare dan keracunan, serta dalam jangka waktu lama terakumulasi dalam tubuh dapat menyebabkan kanker, gangguan tumbuh kembang pada anak, mengakibatkan kerusakan fungsi otak yang dapat menghambat aspek kognitif anak yang akan mempengaruhi nilai akademis anak usia sekolah.

Pada kesempatan yang sama, dilaksanakan juga beberapa kegiatan lainnya, yaitu penyuluhan terkait dengan pentingnya tindakan Lifting and Moving (Mengangkat dan Memindahkan) pada keadaan tertentu atau saat bencana yang membutuhkan mekanisme transportasi berupa pengangkatan dan perpindahan korban. Materi ini disampaikan oleh dosen FKUI, apt. Linda Erlina, M.Farm.

Selain itu, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan yang terdiri dari tekanan darah, gula darah, kolesterol total dan kadar asam urat kepada para murid. Dari hasil pemeriksaan didapatkan, sekitar 20-25% murid-murid SMP sudah terjadi peningkatan pada tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar asam urat darah.

“Hal ini kemungkinan diakibatkan pola hidup dan pola makan yang mengandung lemak tinggi, glukosa tinggi, dan purin tinggi. Oleh sebab itu, perlu sekali penyuluhan pencegahan penyakit degeneratif secara berulang di sekolah-sekolah terutama di SMP wilayah Banyuwangi,” ujar Dr. Anton.