Selasa, 27 September 2022
Perguruan Tinggi

Menumbuhkan Pribadi Positif pada Anak Melalui Hypnoparenting

Menumbuhkan Pribadi Positif pada Anak Melalui Hypnoparenting

Penulis: Utami Nawang Sari

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Kelahiran buah hati merupakan momen yang dinantikan oleh para orang tua. Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak akan berkembang dan setiap orang tua pasti mengharapkan buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang positif. Meski demikian, realitas menghadapkan kita pada fakta bahwa banyak faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak sehingga prosesnya tidak optimal dan terkadang mengalami gangguan.

Pada tahun 2019, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) mencatat bahwa sebanyak 11,7% anak mengalami gangguan perkembangan sesuai dengan segmentasi usianya. Hal serupa juga dipaparkan oleh Nurturing Care pada tahun 2015 bahwa 45% anak-anak Indonesia berisiko mengalami perkembangan yang buruk. Permasalahan ini dapat terjadi karena kurangnya peran aktif orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Mengatasi tantangan tersebut, orang tua harus mulai menerapkan pola asuh berupa sikap dan perilaku baik agar menumbuhkan karakter yang juga positif pada anak. Dewasa ini, salah satu metode yang patut untuk diaplikasikan adalah hypnoparenting. Sebuah metode parenting yang menerapkan didikan dan pola asuh anak melalui metode hypnosis. Lebih jelasnya, anak diberikan sugesti lewat kalimat-kalimat bernilai positif yang mampu membuat mereka merasa percaya diri.

 

Program Hypnoparenting oleh mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Istimewa)

Dalam praktiknya, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memulai hypnoparenting pada anak. Pertama, kondisikan anak dalam keadaan mood yang positif sehingga mereka siap dan optimal melakukan hypnoparenting. Kedua, ciptakan suasana akrab antara orang tua dan anak sebelum memulai hypnosis untuk mempermudah proses. Ketiga, cari saat yang tepat untuk melakukan induksi atau afirmasi, biasanya ditandai dengan keadaan anak yang sudah mulai tenang, terbuka, dan akrab. Keempat, gunakan media sebagai alat bantu untuk menginduksi atau memberikan afirmasi, bisa dengan benda-benda di sekitar atau mainan yang disukai mereka.

Kelima, lakukan kontak fisik secara berkelanjutan antara orang tua dan anak sehingga anak dapat melihat dan merasakan sendiri saat mereka terbuka. Keenam, masukkan sugesti positif (afirmasi) pada anak sebagai puncak dari proses hypnoparenting. Sugesti ini diharapkan dapat tertanam pada pikiran bawah sadar anak. Terakhir, lakukan pengulangan secara konsisten untuk mendapatkan hasil yang efektif.

Seperti yang kita ketahui bahwa orang tua tak jarang dihadapkan dengan tingkah laku negatif anak, contohnya tantrum. Ketika anak mengalami kondisi tantrum, orang tua sering kali memukul atau mencubit anaknya agar berhenti menangis. Nyatanya, reaksi anak justru sebaliknya, mereka malah semakin histeris bahkan menjerit. Hal ini perlu disikapi dengan cara parenting yang tepat.

Hypnoparenting menawarkan solusi untuk membantu orang tua dalam mengasuh anak agar bersikap baik tanpa paksaan, ancaman, dan kekerasan. Metode ini merupakan jawaban cerdas bagi orang tua untuk memainkan peran secara aktif dan tidak menghambat dalam pola pengasuhan anak. (tsa/utm)

uad.ac.id