Kamis, 08 Desember 2022
Perguruan Tinggi

Dampak Psikologis dari Covid-19

Dampak Psikologis dari Covid-19

Salah satu pembicara pada acara Konferensi Internasional Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Istimewa)

Wabah Covid-19 telah berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka memahami bahaya Covid-19 dan mengedepankan pencegahan epidemi serta antiepidemi, pada Kamis 17 November 2022, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan seminar dengan tema “Isu Riset Psikologi Pasca-Pandemi”.

Hadir sebagai pembicara di antaranya Prof. Madya Dr. Sopian Bujang (Faculty of Cognitive Science and Human Development, Universiti Malaysia Sarawak, Malaysia), Ghea Amalia Arpandy, M.Psi., Psikolog (Faculty of Psychology, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Indonesia), Associate Professor Michelle Hood (Head of School of Applied Psychology, Griffith University Queensland, Australia), Ciptasari Prabawanti, Ph.D. (Master Program in Psychology, Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia), serta Prof. Dr. Arie Dijkstra (Faculty of Behavioral and Social Sciences, University of Groningen, the Netherlands).

Sebelum masuk ke tema bahasan yakni tentang “Masalah Penelitian Psikologis setelah Pandemi”, acara terlebih dahulu dibuka dengan pemutaran lagu kebangsaan dari berbagai negara. Selanjutnya, Prof. Madya Dr. Sopian Bujang menjelaskan bahwa dibandingkan dengan lingkungan prapandemi, lingkungan kerja menunjukkan perbedaan yang nyata. “Bagaimanapun, Covid-19 memiliki dampak psikologis yang nyata pada pekerja. Selain itu juga memengaruhi produktivitas dengan gejala depresi di kalangan staf medis dan garis depan,” jelasnya.

Banyak data yang menunjukkan tentang stresnya para pekerja. IPSOS tahun 2021 membuktikan melalui sebuah studi bahwa di antara 12.823 pekerja dewasa daring berusia 16–74 tahun di 28 negara, Malaysia melaporkan tingkat kecemasan tertinggi.

Adapun pencegahannya dapat dilakukan dengan berbagai strategi, seperti menciptakan budaya yang terbuka, inklusif, dan menerima. Bisa juga dengan memberikan pelatihan kesehatan mental untuk senior dan menengah manajer, dorong keterlibatan karyawan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengambil tindakan atas umpan balik dari karyawan, dan menyediakan komunikasi yang teratur serta transparan. Hal lain yang dapat ditempuh yakni dengan menawarkan up skilling, pelatihan, dan pengembangan bagi karyawan. Jalan lupa untuk menjalankan Employee Assistance Program (EAP) reguler untuk memeriksa kesejahteraan mereka.

Setiap pembicara pada kesempatan ini pun menyampaikan materi sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Pada sesi tanya jawab, salah satu mahasiswa mengungkapkan bahwa acara tersebut memberinya wawasan tentang dampak Covid-19 terhadap kesehatan mental masyarakat.

Penulis Li Yuyan (Desya)
Mahasiswa Sastra Indonesia UAD dari Tiongkok

uad.ac.id