Rabu, 07 Desember 2022
Perguruan Tinggi

INNALILLAHI, PIMPINAN PONPES CIPASUNG KH A BUNYAMIN RUHIAT WAFAT

INNALILLAHI, PIMPINAN PONPES CIPASUNG KH A BUNYAMIN RUHIAT WAFAT

(UINSGD.AC.ID)-Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, kabar meninggalnya Drs KH A Bunyamin Ruhiat MSI, PBNU ini menyebar melalui berbagai aplikasi perpesanan. Dilansir dari detikJabar, Haryadi Ahmad, salah satu keluarga di Ponpes Cipasung, membenarkan kabar duka tersebut.

“Iya benar kang, minta doanya untuk bapak. Meninggalnya pukul 10.12 di RS TMC Kota Tasikmalaya,” ujar Haryadi sambil menjelaskan bahwa jenazah Abun Bunyamin akan dimakamkan hari ini di area pemakaman keluarga yang berada di kompleks Ponpes Cipasung.

Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum sudah mengetahui meninggalnya Pimpinan Ponpes Cipasung Abun Bunyamin Ruhiat. “Iya pak,” kata Uu via pesan singkat.

Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto dijadwalkan langsung takziah ke rumah duka. “Bapak sudah mengetahui, masih di Bantarkalong. Rencana takziah ke rumah almarhum,” ucap Tedy, salah satu ajudan Ade.

Profil Ajengan

Ajengan Abun Bunyamin, panggilan akrabnya, juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2022-2027.

Dilansir dari Ngopi Bareng, Ajengan Abun Ruhiat, lahir pada 27 September 1949. Ulama karismatik Jawa Barat ini, adalah anak kesembilan dari 14 bersaudara dari pasangan KH Muhammad Ruhiat dan Hj Siti Aisyah yang tak lain adalah Pendiri Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya.

Pondok pesantren yang diasuh Ajengan Abun, merupakan lokasi bersejarah dalam keberlangsungan jam’iyah Nahdlatul Ulama. Baik dalam pelaksanaan perhelatan tinggi seperti muktamar hingga Musyawarah Besar dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama.

Saat Kuliah

Secara keilmuan, Ajengan Abun ini terbilang ulama yang mumpuni. Ia menempuh pendidikan baik secara formal maupun non formal. Secara nonformal, ia memperoleh ilmunya dari sang Ayah secara langsung di Pondok Pesantren Cipasung.

KH Ruhiat ialah murid dari Kiai Sobandi, pengasuh Pondok Pesantren Cilenga. Kiai Ruhiat mengaji di Cilenga kurang lebih empat tahun, dari 1922 sampai 1926.

Sementara itu, Kiai Sobandi memperoleh pendidikan di Masjid al-Haram Makah, berguru antara lain kepada melalui Syekh Mahfudh al-Tarmasi.

Kiai Ruhiat juga berkeliling mengaji dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Ia pernah mondok di Pondok Pesantren Sukaraja asuhan Kiai Emed, Pesantren Kubang Cigaloncang asuhan Kiai Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana yang diasuh oleh Kiai Toha yang menurut riwayat juga pernah menjadi murid dari Syekh Mahfudh al-Tarmasi.

Sementara itu, pada pendidikan formal, Kiai Abun memulai pendidikannya di Sekolah Rendah Islam (SRI) Cipasung pada tahun 1955 sampai 1961. Kemudian melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Islam Cipasung sampai 1964. Berlanjut di SMA Islam Cipasung dari 1964-1967.

Cipasung masih menjadi tempat belajarnya hingga pada 1971, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Perguruan Tinggi Islam (PTI) Cipasung. Di samping itu, Kiai Abun juga alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang saat itu masih bernama Istitut Agama Islam Negeri (IAIN).

Di IAIN Bandung, ia mengambil jurusan bahasa Arab pada tahun 1974-1976. Dari PTI Cipasung, ia memperoleh gelar Bachelor of Art (BA) atau sarjana muda, dan sarjana penuhnya ia raih saat di UIN Bandung (Drs).

KH A Bunyamin Ruhiat mengambil kuliah di UIN Bandung yang pada saat itu masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan dipegang oleh rektor Prof. KH Anwar Musahdad

“Kuliahna oge ngan tujuhan da,” kenangnya. “Pa Maksum Hidayat anu ti Sumedang. Abdurrahman ti Cipanas. Anu ti Cianjur hiji, Latif Saoban. Muhyidin Ma’mun ti Cirebon. Hiji deui anu ti Jawa nu budakna dikadieukeun, terus hiji urang Purwokerto,” begitu KH A Bunyamin bertutur, menyebut sejumlah teman seangkatannya, menunjukkan daya ingatnya yang kuat.

“Rebo teh tos uih. Hiji waktu Rebo teh cenah moal aya kuliah. Bapa teh maksakeun ti ditu maghrib. Ka dieu jam satu. Jaba can aya HP can aya nanaon. Euweuh nu mapagkeun pan jam satu. Eta mah mapah ti ditu ti Borolong ka dieu. Jabi leuweung keneh. Leumpang sorangan jam satu. Eta asa teu nincak leumpang ka dieu. Beak sabara we ayat kursi. Peureum we. Ya Allah,” tuturnya menceritakan sekelumit kisahnya semasa kuliah diakhiri dengan gelak tawa, setelah tenggelam dalam kenangan di masa lalu.