Minggu, 27 November 2022
Perguruan Tinggi

Rayakan Satu Dekade Pendidikan Inklusif di UB, PLD Luncurkan Buku

Rayakan Satu Dekade Pendidikan Inklusif di UB, PLD Luncurkan Buku
Cover Buku Bunga Rampai Satu Dekade Pendidikan Inklusif di Universitas Brawijaya

Tepat setelah 10 tahun berdiri, Pusat Layanan Disabilitas (PLD) Universitas Brawijaya meluncurkan sebuah buku berjudul “Bunga Rampai Satu Dekade Pendidikan Inklusif di Universitas Brawijaya” Kamis, 17 November 2022, di Aula Utama Gedung FEB UB Lantai 3.

Layanan disabilitas resmi berdiri sejak 2012. Melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, yang saat ini bernama resmi Pusat Layanan Disabilitas, pendidikan yang setara untuk penyandang disabilitas diselenggarakan dengan secara langsung menerima mahasiswa difabel melalui Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD).

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES. meluncurkan buku tersebut dengan menyerahkannya secara simbolis kepada perwakilan dari Fakultas Vokasi. Seperti diketahui, Vokasi UB merupakan fakultas penerima mahasiswa difabel terbanyak, yaitu 64 orang, sejak 2012 dibandingkan fakultas lain di UB.

Wakil Rektor bidang Akademik dan Perwakilan Fakultas

“Di usia PLD yang kesepuluh ini, saya kira ini waktu yang tepat untuk ingat kembali dan berterima kasih atas peran bapak dan ibu sekalian yang sangat penting dalam pengambilan kebijakan terkait pendidikan inklusif di fakultas-fakultas dan program studi di UB,” ucap Aulanni’am dalam sambutannya kepada jajaran dekan dan ketua program studi yang hadir dalam acara tersebut.

Di kesempatan yang sama, Prof. Aulanni’am juga menyampaikan bahwa selain menjalankan mandat undang-undang, sistem dan layanan disabilitas juga sangat membantu perkembangan kelembagaan dan akreditasi fakultas dan jurusan di UB.

“Poin mengenai inklusi terhadap penyandang disabilitas itu sangat penting dalam akreditasi fakultas dan jurusan. Di samping itu memang kewajiban kita untuk memfasilitasi penyandang disabilitas di perguruan tinggi,” tegasnya.

Kompilasi Pengetahuan dan Pengalaman

 Bunga Rampai ini disusun sejak 2021. Buku ini terdiri dari tulisan-tulisan pendiri PLD, pengurus, staf, dosen, dan praktisi. Mereka menulis tentang refleksi, pengelaman, dan pengetahuan yang didapatkan selama layanan disabilitas diselenggarakan. Tim editor mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut, mereview, dan memproses penerbitannya hingga akhirnya terbit di November 2022.

Unita Werdi Rahajeng, M.Psi. Psikolog, menyampaikan bahwa memang tidak mudah mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut. Namun menurutnya, dokumentasi terhadap refleksi dan pengetahuan pelaku layanan inklusi-disabilitas sangat penting dilakukan.

“Saya teringat peribahasa Latin ini, ‘Verba volant, scripta manent’, yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi. Jadi pengalaman-pengalaman dan hasil pikiran terkait layanan inklusi-disabilitas ini harus terdokumentasikan, salah satunya dalam bentuk buku,” jelasnya.

Fadillah Putra, M.PAff., Ph.D., salah satu pendiri dan ketua pertama PLD UB, turut hadir dan berkesempatan berbagi pengalaman. Fadillah bercerita bahwa PLD merupakan manisfestasi keilmuan.

“PLD UB, yang bagi saya masih PSLD ya, merupakan manifestasi keilmuan yang merupa menjadi layanan. Waktu itu, kami memulainya dengan diskusi kecil, lalu melakukan advokasi di kampus agar layanan kepada penyandang disabilitas diselenggarakan. Di antara kami sendiri ada penyandang disabilitas yang terlibat. Nothing about us without us. Itu juga yang menjadi alasan mengapa PLD terhitung sukses,” ceritanya.

Menurut Fadillah, layanan inklusi-disabilitas mau tidak mau memang harus dilaksanakan.

“Undang-Undang Dasar kita menjamin hak semua orang, tak terkecuali penyandang disabilitas. Itulah alasan mengapa PLD ada bahkan sebelum mandat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan,” tegasnya.

Tidak hanya dari pendiri, pengurus, dan staf, PLD UB juga sedang memproses penerbitan kumpulan tulisan mahasiswa difabel dan volunteer dengan tema yang juga sangat beragam, mulai dari pengalaman hingga kritik dan masukan mereka terkait masa depan pendidikan inklusif di UB.[mahali/sitirahma]