Rabu, 07 Desember 2022
Perguruan Tinggi

Lakukan Penguatan Konservasi, Tim DM UB Gandeng Sekolah Alam di Pesisir Malang

Lakukan Penguatan Konservasi, Tim DM UB Gandeng Sekolah Alam di Pesisir Malang

Pesisir Malang memiliki beberapa rintisan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Wilayah ini memiliki beberapa potensi penting, seperti mangrove, terumbu karang, area penetasan telur penyu hingga lokasi pemijahan ikan komersial. Potensi ini dapat dikembangkan menjadi kawasan lindung sekaligus sumber ekonomi biru bagi masyarakat setempat, yang telah dikelola oleh kelompok masyarakat dengan berbagai kegiatan pendukung konservasi.

Salah satu upaya mendukung konservasi adalah dengan mendirikan sekolah alam bagi anak-anak setempat. Di wilayah ini, terdapat dua sekolah alam yaitu Sekolah Alam BSTC (Bajulmati Sea Turtle Conservation) di pesisir Gajahrejo, Kecamatan Gedangan serta Sekolah Alam “Sidolan” CMC (Clungup Mangrove Conservation) yang berada di pesisir Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Meski memiliki dua sekolah alam, tidak tersedianya media pembelajaran dan modul serta terbatasnya akses internet berakibat pada banyaknya potensi materi lokal yang tak tersamapaikan. Berangkat dari kedua masalah tersebut, tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya menembangkan perangkat edukatif untuk pembelajaran konservasi berbasis wilayah.

Tim DM yang terdiri atas Achmad Basuki, Ph.D dan Adhitya Bhawiyuga dari Fakultas Ilmu Komputer, Dhira Kurniawan Saputra dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Nila Firdausi Nuzula, Ph.D dari Fakultas Ilmu Administrasi, dan Dr. Raden Arief Setyawan dari Fakultas Teknik mengembangkan perangkat edukatif untuk pembelajaran konservasi berbasis konten lokal yang ada di area BSTC dan CMC. Selain itu, tim ini juga melakukan penguatan pelatihan penggunaan dan pembuatan konten bagi pengelola sekolah alam di area tersebut.

“Perangkat ini cukup fleksibel karena ukurannya yang kecil dengan pencatuan baterai, tidak memerlukan akses internet,  dan berisi materi digital audio & visual yang menarik, sehingga memudahkan pengelola sekolah alam dalam memberikan materi”, ujar Ahmad selaku ketua tim.

Perangkat portabel server ini, imbuhnya, merupakan kombinasi Learning Management System (LMS) Moodle dengan perangkat keras Raspberry Pi 4, yang di dalamnya berisi konten-konten edukasi konservasi bertema penyu di BSTC, serta mangrove dan ekowisata di CMC. “Selain itu, terdapat pula materi tentang konservasi dan pencemaran laut dari KKP. Terdapat juga tour virtual melalui visualisasi camera 360 pada BSTC dan CMC, sehingga menjadikan tampilan menjadi lebih atraktif”, imbuhnya.

Modul yang telah terunggah dalam server portabel berbasiskan MoodleBox ini dapat diakses secara terbuka oleh siapapun melalui laman yang disediakan dengan jangkauan di sekitar area, sehingga dapat memperkenalkan kegiatan konservasi di pesisir Malang ke tempat-tempat lainnya di Indonesia, terutama pulau-pulau kecil yang jauh dari jangkauan internet. “Selain itu, tim ini juga melakukan penguatan pelatihan penggunaan dan pembuatan konten bagi pengelola sekolah alam di area tersebut”, pungkasnya.