Selasa, 29 November 2022
Perguruan Tinggi

Angkat Isu Mental Health, Dokter Muda Ini Jadi Delegasi di Y20 Solo

Angkat Isu Mental Health, Dokter Muda Ini Jadi Delegasi di Y20 Solo

Kesehatan mental masih belum menjadi prioritas di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di tahun 2018 menunjukkan gangguan mental emosional penduduk usia di bawah 15 tahun meningkat dari 6.1 di tahun tersebut menjadi 9.8 persen atau sekitar 20 juta penduduk.

Aisha Putri Setiwoati

Berangkat dari kepedulian atas masalah ini, salah satu mahasiswi Program Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya merancang program Jiwa Sehat, Bangsa Sehat. Aisha Putri Setiowati merancang sebuah program terkait isu Diversitas dan Inklusivitas yang fokus pada kesehatan mental masyarakat.

“Program ini memiliki visi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, mencegah perilaku yang membahayakan diri akibat menderita gangguan mental, serta mengurangi stigma negative di masyarakat terhadap penderita gangguan mental”, ujarnya.

Dalam menjalankan program ini, mahasiswi Angkatan 2016 ini menyebut ada 8 strategi yang dilakukan. “Pertama adalah informasi dan edukasi mengenai kesehatan mental secara digital, kemudian pendidikan remaja dan konseling sebaya dengan metode berbagi, peduli dan pendukung di aspek yang fundamental, ada Kawan Sehat Jiwa yang merupakan platform sosial media edukasi kesehatan mental dan gerakan stop stigmatisasi, ada Mental Health Festival untuk menciptakan hubungan harmonis penyintas dan masyarakat umum melalui pertunjukan seni, instalasi seni, talkshow kesehatan mental, kolaborasi dengan lembaga kesehatan dan pendidikan serta advokasi komunitas”, paparnya.

Berawal dari program ini, Aisha kemudian didapuk menjadi salah satu undangan dalam forum Y20, di Solo pada akhir Oktober lalu. Selama empat hari, Aisha berkesempatan mengikuti High Level Panel dari para delegasi terkait isu yang dipilih. Ia juga mengikuti talkshow yang mengundang Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Gibran Rakabuming.

“Saya benar-benar tidak menyangka, ditengah kesibukan saya sebagai dokter muda, bisa menemukan ide setelah saya menjadi asisten operator operasi Sectio Caesaria ibu hamil kembar di RSUD Wlingi, Blitar. Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, saya izin ke dokter Obgyn yang sedang melakukan operasi untuk izin turun mengetik tugas Y20, lalu saya spontan menuliskan gagasan saya dalam waktu yang sangat singkat dan mepet, karena deadline pengumpulan pukul 23.59, tepat 2 menit sebelum deadline, pukul 23.57 saya submit ide gagasan saya ke laman Y20 tersebut dan tidak menyangka akhirnya saya lolos”, ujanrya ketika ditanya mengenai cerita dibalik keberangkatan Aisha ke Solo.

Dari Y20, Aisha pun mendapat berbagai pengalaman. “Pengalaman berharga yang tidak bisa dinilai karena menjadi rangkaain KTT G20 yang dilaksanakan 20 tahun sekali di Indonesia. Saya juga bisa menjalin relasi dengan komunitas pemuda terbaik di Indonesia, berkompetisi dengan fasilitas dan profesionalitas tingkat tinggi, membangun jejaring dan tentu mendapat pengetahuan baru tentang permasalahan global dan di Indonesia”, jelasnya.

Disinggung rencana ke depan, Aisha berencana berkolaborasi mewujudkan idenya. “kita akan melakukan kolaborasi bersama para delegasi lain untuk menggabungkan ide-ide yang berkaitan dengan isu yang dipilih dan turut merealisasikan ide-ide ini sebagai aksi nyata para pemuda as future leaders untuk membangun Indonesia”, pungkasnya.