Rabu, 07 Desember 2022
Perguruan Tinggi

Menilik Posisi Guru Di Era Pembelajaran Digital

Menilik Posisi Guru Di Era Pembelajaran Digital

Ilustrasi perayaan hari guru (sumber: Vecteezy.com)

Kampus ITS, Opini – Seorang guru, tak pernah lekang perannya menjadi manifestasi gerigi yang melancarkan pencerdasan warga negara sedari taman kanak-kanak hingga pendidikan lanjut. Hal tersebut menjadikannya sosok yang erat melekat di kehidupan setiap masyarakat. Namun, melihat maraknya platform pembelajaran digital yang memberikan transfer ilmu pengetahuan lebih praktis dan digemari siswa, apakah peran guru akan tergeser?

Menilik dari segi historis, bermula saat Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kweekschool (Pendidikan Keguruan). Kweekschool ditujukan  untuk memenuhi kebutuhan guru bumiputera bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu.Berdasarkan pendapatan yang diterima, guru-guru bumiputera menerima gaji jauh di bawah guru-guru Eropa. Adanya perbedaan gaji tersebut membuat guru-guru bumiputera berusaha untuk memperjuangkan nasibnya.

Anggota Pengurus Besar Budi Utomo, Dwidjosewojo, mulai memikirkan wadah perjuangan para guru dengan membentuk Perserikatan Guru Hindia Belanda (PGHB). Kemudian, berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932. Organisasi tersebut menjadi cikal bakal PGRI yang lahir pada 25 November 1945 dan terus diperingati sebagai Hari Guru Nasional. 

Memasuki abad ke-21 ini, peran guru rentan tergeser dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Internet dengan variasi informasinya kadang dijadikan acuan utama oleh generasi Z dan generasi Alpha dibandingkan dengan perkataan para guru. Hal tersebut pun didukung dengan lahirnya berbagai platform pendidikan virtual yang turut menggeser posisi guru di era ini.

Ilustrasi murid yang berakhlak, teladan, dan sopan dengan adanya ajaran dari guru (sumber: steadfastacademy.com)

Akan tetapi, bagaimanapun juga profesi guru sendiri tetap tak bisa digantikan meski perkembangan teknologi yang bertambah pesat setiap harinya. Peran guru tetap dibutuhkan karena tugas mereka tak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, guru sewajarnya menanamkan nilai-nilai kehidupan dan kebaikan dan serta keteladanan yang tidak bisa dipelajari dari saluran informasi apapun.

Di sisi lain, hadirnya internet turut menjadi partner terbaik guru. Dengan segala kecanggihannya, internet mampu menampilkan keinginan pengguna terhadap aneka konten. Mengikuti perkembangan zaman sekarang, cita-cita menjadi guru yang berjasa di zaman sekarang adalah suatu keniscayaan. Apalagi, kini banyak tempat pendidikan yang mengadopsi sistem daring. Hingga terlihat gurulah yang harus mengikuti perkembangan zaman dan menikmati proses bergesernya peran mereka di era disrupsi ini.

Seorang guru saat dalam proses ajar mengajar dengan muridnya (sumber: childrencentral.net)

Sebagai contoh, tak asing lagi di telinga kita tentang istilah startup yang lahir di bidang pendidikan. Secara tak langsung, guru harus mulai beradaptasi dengan fleksibel dalam memahami hal-hal baru lebih cepat. Pada akhirnya, pemanfaatan media teknologi dalam mekanisme pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempermudah berbagai akses pendidikan bagi siapa pun. Selain itu, peserta didik juga makin dapat memahami bahwa menjadi guru adalah hal yang mulia yang tidak semua orang mampu konsisten menjalaninya.

Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 Iwan Syahril mengatakan bahwa para guru di Indonesia telah berhasil menghadapi tantangan itu. Mereka mempelajari cara-cara baru dalam mengajar dan beradaptasi, salah satunya  melalui Platform Merdeka Mengajar yang dirancang khusus bagi guru untuk  belajar dari sesamanya. Platform Merdeka Mengajar yang diluncurkan sebagai Merdeka Belajar Episode Kelima Belas merupakan platform teknologi yang disediakan untuk menjadi teman penggerak bagi guru dalam mengajar, belajar, dan berkarya.

Dengan demikian, teknologi tidak akan menggantikan peran guru. Maka, setiap guru berhak menerima bentuk penghargaan dan penghormatan atas setiap jerih payahnya dalam melakoni tugas mulia mendidik anak didiknya yang seringkali dianggap sederhana. Padahal, hal tersebut  berdampak pada terwujud tujuan besar “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” yang termaktub dalam alinea terakhir Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. (*)

 

Ditulis oleh:
Gandhi Kesuma
Mahasiswa S-1 Departemen Teknik Infrastruktur Sipil
Angkatan 2021
Reporter ITS Online