Selasa, 31 Januari 2023
Perguruan Tinggi

Kerja Sama Lintas Sektor Tanggulangi Malaria

Kerja Sama Lintas Sektor Tanggulangi Malaria

Untuk menanggulangi penyebaran penyakit malaria, kerja sama lintas sektor seperti petugas kesehatan lingkungan, petugas promosi kesehatan (Promkes), hingga respon dari masyarakat dan petinggi desa harus berjalan guna memutus rantai malaria. Hal ini disampaikan oleh Khoirunniza, S.K.M., Promkes Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Kecamatan Moyo Utara, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dalam Live Education Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKM UMJ), Minggu (8/01).

Kegiatan yang bertajuk Program Penanggulangan Penyakit Menular, Khoirunniza menyampaikan bahwa malaria adalah penyakit menular disebabkan oleh parasit plasmodium yang dibawa melalui nyamuk dengan gigitannya kepada manusia. Menurutnya, malaria terbagi menjadi empat tingkat keparahan berdasarkan spesies plasmodium yang berbeda yaitu malaria tropika, malaria tertiana, malaria quartana, dan malaria ovale.

“Gejala umum malaria itu lemas, mual, sakit kepala, badan merasa menggigil, keringat dingin, hingga nafsu makan menurun,” ujar Khoirunniza. Dari gejala umum yang disebutkan, ia menjelaskan bahwa proses penularan yang harus dipelajari yaitu melibatkan epidemiologi mulai dari agent, host, dan environment. “Dari environment, yang berpengaruh karena tempat berkembangnya nyamuk seperti sawah, perkebunan, rawa-rawa, kolam yang tidak digunakan lagi, sungai aliran yang lambat, bahkan bekas tambak udang. Lalu, agent, yaitu parasit plasmodium. Terakhir, host, yang dibedakan menjadi dua yaitu definitive dan intermediate,” jelasnya.

Penularan malaria diawali dengan nyamuk sebagai parasit plasmodium yang menggigit tubuh manusia, selanjutnya akan masuk dalam tubuh dan akan berkembang biak 7-12 hari. “Apabila sudah melihat itu kepada yang mengalami gejala umum malaria, perlu segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Apabila sudah terkonfirmasi cek laboratorium, maka harus melaporkan ke kader kesehatan wilayah III untuk ditindaklanjuti penanganannya,” tutur Khoirunizza.

Menurutnya, Puskesmas akan melayani dengan kerja sama Promkes dan tim kesehatan lingkungan untuk mengupayakan dan menanggulangi rantai penyebab malaria. “Misalkan penanggulangan, kita masih melihat kasus yang terlaporkan. Nanti, tim kesehatan lingkungan, tenaga kesehatan, dan surveilans berjalan dengan melihat penularannya,” ucap Khoirunniza. Lebih lanjut, pemerintah juga memberikan penanganan dan/atau penanggulangan, salah satunya bantuan pemberian kelambu dengan sasaran untuk bayi serta masyarakat yang lebih rentan terkena malaria.

Sebagai alumni FKM UMJ, Khoirunniza mengingatkan kepada mahasiswa FKM khususnya konsentrasi epidemiologi, bahwa ketika bekerja harus peka terhadap permasalahan yang terjadi seperti penyakit menular. “Teman-teman FKM ketika lulus nanti, otomatis dituntut bisa semuanya di bidang kesehatan masyarakat. Kalau misalnya diterima kerja, harus peka, jangan sampai tidak tahu kasus dan tidak bisa menangani. Nanti, jika tidak bisa akan menyebabkan penanganannya telat, penularan semakin banyak sehingga terjadi kejadian luar biasa. Yang terpenting, harus jalin kerja sama dengan yang bersangkutan agar dapat memutus, memberikan pelayanan, serta melindungi masyarakat dari penyakit menular seperti malaria,”pungkasnya.

Kegiatan Live Education FKM UMJ sudah berlangsung sebanyak tiga kali dari lima sesi yang direncanakan. Program ini ditayangkan secara langsung dan dapat disaksikan ulang di akun instagram resmi Epidemiologi FKM UMJ (@epid_fkmumj), dengan tujuan mengetahui faktor resiko, pencegahan, hingga pengendalian penyakit kepada masyarakat. Sebelumnya Live Education Epidemiologi membahas penyakit diabetes melitus dan TBC. (QF/KSU)