Selasa, 31 Januari 2023
Sekolah Menengah Atas

Desa Tanpa LIterasi,Tidak Punya Masa Depan

Joannes Pieter P. A. Callas

Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan nasional menjadi prioritas kementerian desa dalam penggunaan dana desa 2021.Untuk mengoperasionalkan tujuan pembangunan desa yang dimandatkan oleh Undang-Undang Desa, maka penggunaan dana desa diprioritaskan untuk mewujudkan 18 (delapan belas) tujuan SDGs desa yang salah satu tujuannya ada di butir ke 4 (empat) pendidikan desa berkualitas.

Pendidikan desa yang berkualitas tidak kalah pentingnya dalam mempertahankan keberlanjutan masa depan desa. Sebab pendidikan sebagai satu satunya jalan untuk membebaskan manusia dari ketertinggalan sosial serta kebelengguan hidup, untuk itu kita selalu dituntut untuk peka dan selalu adaptif terhadap perubahan yang terus bergulir, dan mau tidak mau sebagai jaminannya urusan pembenahan internal sumber daya manusia sebagai dasar dari semua itu.

Ada satu prinsip minimalis yang selam ini tertanam kuat dalam masyarakat kita,dimana persoalan urusan baca tulis pada anak serta membangkitkan motivasi untuk belajar semuanya dilimpaahkan ke sekolah. Bisa jadi peran dan fungsi orang tua dalam prinsip ini hanya sebagai benteng administrasi anak, sehingga fungsi Keluarga dan masyarakat sebagi agen sosialisasi masih kabur di mata mereka terkait persoalan baca tulis.

“Setiap orang adalah Guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap peristiwa adalah pelajaran” kira kira pribahasa ini bisa membantu kita keluar dari jeratan tradisi berpikir masa lalu.Pendidikan abad 21 saat ini banyak memberikan ruang demokrasi dan berbasis realitas sosial. Tidak serta merta urusan mencerdaskan anak bangsa tanggung jawab Sekolah, tapi masyarakat punya peran penting disini sebagai agen sosialisasi bagi generasi muda.

Indeks kemajuan masyarakat bisa dilihat dari sejauh mana budaya literasi itu hidup, budaya literasi yang hidup akan menjamin masyarakat itu cerdas.pada masyarakat kota yang identik dengan masyarakat yang rasional, bisa dikatakan budaya literasi terbilang baik, hal ini tidak heran sebab akses dan nkesempatan untuk membaca dan menemukan referensi dengan mudah diperoleh. Sehingga perjumpaan motivasi (internal dan eksternal) dengan sumber becaan sangat mendukung kemajuan budaya literasi di kota.

Pada masyarakat desa budaya literasi masih terbilang sunyi, namun bukan berarti dengan mudah kita katakan mereka malas. Hal ini bisa saja disebabkan oleh keterbatasan sumber daya di desa (bahan bacaan dan internet) bisa menjadi salah satu penyumbang kerdilnya kebiasaan baca tulis.belum lagi sumbangan dari faktor faktor lainnya seperti infrastruktur (jalan dan listrik)akan mempengaruhi kondisi ini terjadi terus.Di desa selama ini urusan baca tulis masih digarap oleh sektor formal, jadi bisa dibayangkan kalau sekolah libur, ya bisa saja aktivitas baca tulis juga ikut libur.


Masa depan desa yang kuat tidak bisa diukur dari aspek infrastruktur saja, atau juga dari sektor pendidikan formal.

Hal-hal seperti ini masih terbilang homogen, jika tidak mau pembangunan manusia berjalan ditempat, alangkah biknya isu isu literasi menjadi garapan bersama, melibatkan para penggiat literasi atau mendirikan rumah baca di desa. Literasi Desa bisa menjamin asset kognisi warga desa untuk menghadapi tata nilai baru yang dianggap sebagai hal-hal yang rumit dan tak terjelaskan oleh pengetahuan lokal mereka serta memperkaya pengetahuan dan nalar imajinatif.

Isu-isu gerakan literasi desa sudah sepantasnya masuk dalam kebijakan pemerintah desa sebagai salah satu lokomotif pembangunan. Apalagi dengan adanya dana desa bisa menjadi jala mulus misi ini bisa tercapai. pemerintah desa mestinya melihat isu literasi ini menjadi isu yang urgen.

Sebab keberhasilan pembangunan desa beberapa tahun kedepan ditentukan oleh sejauh mana budaya literasi di desa itu berkembang. Generasi muda desa yang suda terbiasa dengan gaya hidup akademis akan memberikan harapan besar bagi masa depan desanya kelak.

Terdapat empat aspek yang perlu terpenuhi dalam membangun literasi desa, seperti uraian berikut.

Fasilitas

Fasilitas menjadi salah satu sumber daya pendukung untuk berkembangnya budaya literasi di desa.Dengan adanya fasilitas literasi, seperti perpustakaan desa, rumah baca, taman baca, dan pojok baca atau jaringan internet bisa membangkitkan gairah masyarakat desa untuk membaca, bahkan bisa memperbanyak waktu produktif anak anak usia sekolah untuk membaca setela pulang sekolah.

Pengelola

Tidak berhenti pada fasilitas saja,agar segala bentuk kegiatan literasi desa tidak berjalan sporadis, tetapi dapat terkontrol dan efektif sesuai dengan tujuan yang diharapkan atas pengadaan fasilitas literasi desa. Maka dari itu, dibutuhkan seorang pengelola yang benar-benar aktif di bidang literasi hal ini bertujuan untuk memanajemen fasilitas baik dari segi teknis maupun praktis, sebab pembaca yang berkunjung bervariasi,tidak serta merta anak sekolah,jadi dibutuhkan manajemen yang baik.

Pegiat Literasi

Pegiat literasi dapat berperan sebagai pendukung sekaligus pelopor gerakan literasi desa. Ketika upaya peningkatan literasi desa telah digodok oleh pemerintah desa, peran pegiat literasi hanya sebatas sebagai pendukung.

Namun, apabila kegiatan peningkatan literasi masyarakat desa masih luput dari jangkauan pemerintah, di posisi inilah pegiat dapat berperan sebagai pelopor lahirnya gerakan literasi desa. Biasanya penggiat literasi adalah mereka yang punya kepedulian,rela berkorban, dan mau bekerja tanpa harus ada imbalan.Penggiat literasi bisa yang berasal dari dalam desa itu sendiri bisa juga yang datang dari luar desa.

Jika ketiga unsur tersebut sudah terpenuhi, bukan berhenti sampai disitu,prinsip tata kelola yang berkelanjutan menjadi tanntangan selanjutnya,jangan sampai program ini seirama dengan masa kepemimpinan kepala desa, berakhirnya masa jabatan, berakhir juga gerakan ini.

Bagi pegiat literasi, agar gerakan literasi yang telah digodok terus berlanjut, perlu membentuk komunitas guna merangkul kawan-kawan lain yang sepemikiran. Komunitas juga dapat dijadikan sebagai wadah untuk melahirkan sosok-sosok pegiat baru yang nantinya akan meneruskan gerakan literasi desa.

Membangun masa depan desa yang berkelanjutan harus dilandaskan pada regenerasi konsep dan gagasan dengan menata sumber daya generasi muda di desa menjadi pion utama.lewat gerakan literasi desa akan memberi harapan besar dengan munculnya “manusia manusia baru” yang menjadi pemeran utama pembangunan desa.