Senin, 06 Februari 2023
Perguruan Tinggi

Orasi Ilmiah Prof. Maison Pada Pengukuhan Guru Besar UNJA

Orasi Ilmiah Prof. Maison Pada Pengukuhan Guru Besar UNJA

MENDALO,- Prof. Drs. Maison, M.Si., Ph.D.,CIQaR., CIQnR memaparkan Orasi Ilmiah dengan judul “Program Pendidikan Guru Fisika antara Harapan dan Kenyataan” pada kegiatan pengukuhan Guru Besar Universitas Jambi (UNJA), Kamis (19/1/23) di Balairung Pinang Masak UNJA Mendalo.

Profesor kelahiran Matur, Kab. Agam Sumatera Barat pada tanggal 3 Mei 1967 ini, merupakan Guru Besar bidang ilmu Pendidikan Fisika. Beliau saat ini menjadi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNJA.

Beliau memaparkan mengenai pemahaman konsep fisika pada mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika, dimana pengalaman dan interaksi yang terus menerus antara mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya membentuk sebagian dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan mahasiswa tersebut. Salah satu hal yang bisa timbul adalah miskonsepsi. Ketika mahasiswa mempelajari suatu konsep, interpretasi mereka dapat dipengaruhi oleh pengalaman dan informasi yang diperoleh dari lingkungan.

“Pengukuran dan perbaikan miskonsepsi tidak mudah dilakukan. Dibutuhkan instrumen yang tepat untuk mendiagnosa miskonsepsi dan tentunya upaya yang lebih serius untuk mengubahnya. Perlakuan atau pengajaran tersebut dapat meningkatkan jawaban benar mahasiswa terhadap suatu butir soal yang berkaitan dengan konsep yang diujikan, namun ternyata belum tentu signifikan dalam mengubah miskonsepsi mahasiswa pendidikan fisika tersebut,” ujar Prof. Maison.

Kompetensi mahasiswa calon guru yang disampaikan beliau di atas hanyalah sebagian, yaitu pada ranah kognitif (belum menyinggung ranah psikomotor dan afektif), yang ternyata kompetensi kognitif saja sudah sangat bermasalah, belum lagi bila dikaji masalah pada kompetensi lainnya. Kompetensi yang diharapkan saat ini adalah kompetensi holistik terintegrasi yang mensinergikan berbagai aspek karena label guru sebenarnya adalah label sangat terhormat, yaitu sebagai idola yang pantas untuk digugu dan ditiru.

“Masalah dan beban yang dihadapi oleh guru zaman sekarang ditinjau dari aspek lingkungan dan sosial sangat kompleks dan berat. Di satu sisi, guru berusaha mengajarkan siswanya untuk jujur, tetapi contoh yang banyak ditemukan dalam lingkungan masyarakat adalah praktik yang penuh dengan ketidakjujuran,” lanjutnya.

Beliau menyimpulkan bahwa “pendidikan” memerlukan partisipasi banyak pihak dari berbagai kalangan agar bisa berhasil, dan bukan hanya ditumpukan kepada guru saja.

“Pada orasi yang singkat ini dapat saya simpulkan bahwa pendidikan memerlukan partisipasi berbagai pihak (pemerintah, tokoh agama, orangtua, dan masyarakat) agar berhasil, bukan hanya ditumpukan pada guru saja. Harapan terhadap Program Pendidikan Guru secara umum (bukan hanya guru fisika) tentunya sangat besar untuk mencerdaskan bangsa, tetapi kenyataan, praktik, dan sistem yang terjadi di lingkungan siswa sepertinya kurang mendukung malahan terkesan “jauh panggang dari api”. Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan energi yang besar dari semua pihak yang terkait untuk mengubah ini semua, karena pasti tidak akan semudah membalikkan telapak tangan,” jelas Prof. Maison.

Dimas Anugrah Adiyadmo / HUMAS