Kamis, 08 Desember 2022
Perguruan Tinggi

TENNOVEX Bahas Strategi Pengurangan Emisi Karbon Industri Maritim

TENNOVEX Bahas Strategi Pengurangan Emisi Karbon Industri Maritim

Ir Anita Puji Utami (kiri) saat melakukan sesi tanya jawab bersama peserta Talkshow Energi dan Maritim TENNOVEX 2022 di Atrium Grand City Mall (9/11)

Kampus ITS, ITS News ­— Saat ini, aktivitas maritim telah menyumbang sebesar 11 persen dari total emisi karbon dunia. Menyikapi hal itu, dalam gelar wicara pameran inovasi teknologi bertajuk TENNOVEX 2022, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggandeng Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) untuk mengulas strategi dalam mengurangi emisi karbon industri maritim.

Ketua umum IPERINDO, Ir Anita Puji Utami menuturkan bahwa industri galangan kapal telah berupaya mengimplementasikan strategi pengurangan emisi karbon luaran kapal. Salah satunya dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) berupa panel surya sebagai sumber energi penerangan hingga sumber energi berbagai peralatan kerja.

Tak hanya itu, dalam hal permesinan, Anita menerangkan bahwa beberapa kapal di Indonesia telah melakukan pembaruan mesin berkonsumsi listrik rendah. Hal ini berkaitan dengan efisiensi penggunaan bahan bakar kapal, sehingga penggunaan bahan bakar fosil menjadi lebih hemat. “Sayangnya, metode ini membuat biaya perawatan kapal membengkak,” papar Anita.

Berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi karbon industri kapal dalam negeriDi sisi lain, pengupayaan sistem kerja yang dapat meningkatkan efisiensi konsumsi energi juga diperlukan. Salah satunya dengan melakukan perawatan berkala pada mesin-mesin dan peralatan. Teknik ini diperlukan untuk menjaga performa mesin sekaligus mempertahankan kestabilan konsumsi listrik. “Upaya yang paling disarankan adalah manajemen maintenance dan manajemen operasi, karena akan berkontribusi besar pada pengurangan emisi karbon maritim,” ujarnya menambahkan.

Tak melulu berjalan mulus, perwujudan upaya tersebut acapkali menemui berbagai kendala. Salah satunya adalah banyaknya pelaku industri maritim dalam negeri yang kerap melakukan impor kapal bekas. “Mereka enggan melakukan pembelian dalam negeri sebab waktu pemesanan kapal yang lama. Bagaimana tidak, 65 persen komponen kapal Indonesia memang masih impor,” bebernya.

Untuk menyelesaikan permasalahan itu, pemerintah sendiri sudah mengambil langkah antisipatif dengan mengeluarkan kebijakan yang mengatur persyaratan barang impor. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 118 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Barang Modal dalam Keadaan Tidak Baru. “Peraturan ini mampu mencegah pengusaha untuk mengimpor kapal tanpa alasan yang jelas atau dalam keadaan tidak mendesak,” ungkap Anita.

Dengan adanya regulasi tersebut, perusahaan galangan kapal Indonesia yang kini berjumlah 116 diharapkan dapat memaksimalkan potensi industrinya dan mampu mengurangi emisi karbon industri maritim dalam negeri. “Meskipun industri maritim kita mampu berjalan secara mandiri, namun secara ekosistem, industri penunjang lainnya masih perlu ditingkatkan,” jelas perempuan yang menjabat sebagai Direktur PT. Adiluhung Sarana Segara ini.

Ir Anita Puji Utami saat memaparkan materi

Ke depan, Anita berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan dukungan penuh untuk industri kapal dalam negeri. Sebagai contoh, timpal Anita, pemerintah Indonesia dapat mencontoh Tiongkok yang berupaya memberikan insentif bagi galangan kapal yang melakukan ekspor. “Dukungan seperti inilah yang kami perlukan agar industri galangan kapal Indonesia semakin maju dan berkembang,” tutupnya mengakhiri. (*)

 

Reporter: Ferdian Wibowo
Redaktur: Erchi Ad’ha Loyensya