Kamis, 06 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

Tanggapi Kasus Mahasiswa Bandung Kena HIV, Dosen Unpas Beri Langkah Preventif

Tanggapi Kasus Mahasiswa Bandung Kena HIV, Dosen Unpas Beri Langkah Preventif

[vc_row][vc_column][vc_single_image image=”56214″ img_size=”large” add_caption=”yes” alignment=”center”][vc_column_text]BANDUNG, unpas.ac.id – Kabar 414 mahasiswa Bandung positiv HIV yang mencuat beberapa pekan lalu membuat media sosial gempar.

Kabar tersebut mengacu pada data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung yang menyebut hingga Desember 2021, dari 5.943 warga Bandung pengidap HIV, mahasiswa menyumbang kasus sebanyak 6,97 persen atau 414 orang.

Namun, dikonfirmasi Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung Sis Silvia Dewi, data itu merupakan akumulasi dari tahun 1991 sampai 2021 yang dikelompokkan berdasarkan pekerjaan.

Persentase mahasiswa justru paling banyak disorot meski relatif lebih kecil jika dibanding persentase pekerjaan lainnya. Karyawan swasta 30 persen, wiraswasta 15 persen, dan ibu rumah tangga 11 persen.

Penanggulangan HIV Belum Maksimal

Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Pasundan Charisma Asri Fitrananda, S.I.Kom., M.I.Kom. mengatakan, di satu sisi ia prihatin karena mahasiswa turut menyumbang kasus positif HIV.

Di sisi lain, ia menyayangkan tidak adanya konfirmasi oleh wartawan terkait data yang valid ke KPA Kota Bandung. Data yang beredar terlanjur viral dan membuat KPA Kota Bandung kesulitan menanggulanginya.

“Di Indonesia, penanggulangan HIV sulit dilakukan karena akan berbenturan dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Apalagi HIV muncul akibat aktivitas amoral, misalnya seks bebas, penggunaan jarum suntik bergantian, dan sebagainya,” katanya, Rabu (14/9/2022) dilansir dari Podcast Ilkom Unpas.

Podcast Ilkom Unpas. (Yt: Lab Ilmu Komunikasi FISIP Unpas)

Berbagai langkah preventif yang selama ini diupayakan pun sering dianggap tabu. Minimnya edukasi inilah yang membuat penyuluhan tentang HIV tidak berjalan efektif.

Dari hasil penelitiannya, Charisma menemukan bahwa remaja hingga usia SMA belum bisa berekspresi dengan bebas karena masih berada di bawah pengawasan orang tua.

“Saat kuliah, mereka merasakan free life, sehingga kerap terjadi hipermoralitas atau kesan melumrahkan. Moral mahasiswa di lapangan sudah bias, mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang baik dan buruk karena sudah hiper,” terangnya.

Apabila mahasiswa terjerumus ke pergaulan bebas, bahkan mendekati atau melakukan hal-hal yang berpotensi menularkan HIV, menurutnya langkah preventif yang paling mudah dan murah bisa diawali dari lingkungan keluarga.

“Keluarga berperan penting dalam melindungi dan mengingatkan,” sambungnya.

Pentingnya Memahami Komunikasi Kesehatan

Mengenai pemberitaan di dunia kesehatan, ia menilai perlu ada wawasan soal Komunikasi Kesehatan. Di Ilkom Unpas, Komunikasi Kesehatan merupakan mata kuliah baru yang terdapat dalam kurikulum MBKM.

Komunikasi Kesehatan tidak membahas medis dan kedokteran secara spesifik, melainkan kontribusi komunikasi di dunia kesehatan. Misalnya tindakan preventif yang bisa dilakukan insan komunikasi untuk menanggulangi penyakit, dan lain-lain.

“Jadi lebih mengarah ke penyebaran informasi berbasis digital. Biasanya informasi kesehatan yang diberikan oleh praktisi kesehatan kepada penyintas kurang efektif karena menggunakan bahasa medis. Maka dibutuhkanlah insan komunikasi yang bisa menganalisis dan mendekati khalayak dengan cara berbeda,” pungkasnya. (Reta)**[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]