Selasa, 29 November 2022
Perguruan Tinggi

FK Unisba Selengarakan CME Dokter Umum Bahas Gangguan Ginjal Akut (GgGA)

FK Unisba Selengarakan CME Dokter Umum Bahas Gangguan Ginjal Akut (GgGA)

KOMHUMAS-Sebagai salah satu upaya dalam menjawab keresahan masyarakat dan memberikan edukasi khususnya kepada dokter umum mengenai gagal ginjal akut pada anak yang mengalami peningkatan di Indonesia akhir-akhir ini, Fakultas Kedokteran (FK) Unisba menyelenggarakan Continuing Medical Education (CME) Dokter Umum dengan Topik “Gangguan Ginjal Akut (GgGA) : What Should We Know?” yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting, Senin (21/10/2022).

Warek IV Unisba, Dr. Ratna Januarita, S.H., LL.M., M.H., berharap, acara ini tidak hanya mendiskusikan langkah-langkah informatif saja, tetapi juga dapat menghasilkan langkah kuratif dan preventif untuk bisa mengantisipasi resiko yang masih menghadang dimasa akan datang.

Kegiatan ini menghadirkan  empat orang narasumber yakni  Prof. Dr. Nanan Sekarwana. Dr., Sp.A(K), MARS. (Dekan FK Unisba), Dr. Santun Bhekti Rahimah, dr., M.Kes. (Wadek I FK Unisba), Prof. Dr. Dany Hilmanto, dr., Sp.A(K) (Ketua UK Nefrologi Cab Jawa Barat) dan Prof. Dr. Dedi Rachmadi, dr., Sp.A(K)., M.Kes. (Dekan FK Unpas).

Narasumber pertama, Prof. Nanan mengatakan, fungsi ginjal dapat kembali normal bagi penderita GgGA pada anak baik prerenal dan postrenal bila diatasi dengan cepat.

Ia menuturkan, peningkatan angka kejadian GgGA pada anak saat ini merupakan faktor risiko menjadi gangguan ginjal kronis. Menurutnya, dengan adanya riwayat  GgGA pada saat neonates (bayo lahir hingga usia 28 hari),  faktor risiko tejadinya penyakit ginjal dapat muncul di kemudian hari.

Angka kematian GgGA kata Prof. Nanan, tergantung pada etiologi, usia, dan luasnya kerusakan ginjal yang terjadi.

Narasumber kedua Santun menjelaskan, nefrotoksik merupakan substansi yang mempunyai efek merugikan pada ginjal atau menggangu fungsi ginjal yang terdiri dari obat-obat yang bersifat nefrotoksik, polusi lingkungan dan nefrotoksican natural.

Upaya preventif terhadap Nefrotoksisitas kata Santun, dapat dilakukan dengan menghindari penggunaan bersamaan zat atau obat yang mempunyai efek nefrotoksik; menggunakan dosis minimal yang mempunyai efek  jika menggunakan zat kontras dalam diagnostic atau terapi; menghindari penggunaan obat-obat nefrotoksik seperti NSAIDs, aminoglycosides, and amphotericin B jika memungkin dan terdapat alternatif obat; serta pasien yang mendapat ACE inhibitors atau ARBs dalam waktu panjang untuk menghentikan penggunaanya bila akan operasi karena dilaporkan dapat meningkatkan resiko postoperative AKI.

Narasumber ketiga, Prof. Dany mengatakan,  terapi non dialitik (konservatif) seharusnya lebih diutamakan dibandingan terapi dialitik dalam penganganan GgGA pada anak. “Terapi konservatif GgGA dimulai dengan mencari etiologi dan menentukan derajatnya agar dapat menentukan prognosis,” ujarnya.

Ia menuturkan, pemantauan terhadap status volume, nutrisi, dan penggunaan obat-obatan, serta menghindari efek nefrotoksin harus dipertimbangkan sebagai lini pertama terapi pada pasien dengan GgGA.

Prof. Dany mengungkapkan bahwa terapi konservatif terhadap GgGA pada anak bergantung pada manifestasi klinis dan laboratorium.

Narasumber keempat, Prof. Dedi menyebutkan, ginjal memiliki tiga fungsi dasar yaitu filtrasi (glomerulus), sekresi dan reabsorbsi (tubulus). “Pada cedera ginjal akut, tiga fungsi dasar ini berkurang,” katanya.

Menurutnya,  dialisis dapat menjadi modalitas sebagai agen “kidney sparing” dengan dialisernya yang berfungsi sebagai membran semipermeabel.  “Pertukaran cairan dan zat terlarut selama dialisis difasilitasi oleh dua mekanisme utama yakni difusi, ultrafiltrasi dan konveksi. Dengan tiga mekanisme tersebut produk sisa yang tidak diinginkan dapat dikeluarkan dari tubuh kita,” tutupnya.***