Rabu, 05 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

KKN ITS Sosialisasikan Komposting Sampah dengan BSF

KKN ITS Sosialisasikan Komposting Sampah dengan BSF

Tim KKN Abmas ITS bersama para pengurus TPS 3R Guci Mas Indah usai melakukan sosialisasi pengolahan sampah organik dengan komposting BSF

Kampus ITS, ITS News – Sampah organik seringkali berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa diolah. Mereduksi sampah organik, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengabdian Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) inisiasi proses komposting sampah dengan lalat tentara hitam atau yang biasa disebut Black Soldier Fly (BSF) di Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R Guci Mas Indah Gresik.

Ketua tim KKN Abmas, Arseto Yekti Bagastyo ST MT MPhil PhD menuturkan, kegiatan mereduksi sampah atau yang kerap disebut komposting menggunakan BSF menjadi salah satu metode yang efektif. Pasalnya, komposting dengan BSF hanya memakan waktu dua minggu untuk menghasilkan larva yang dapat dipanen atau maggot dan bahan pembuat pupuk organik yang disebut kasgot. “Berbeda dengan metode konvensional yang butuh waktu lebih dari satu bulan,” ujarnya.

Dalam penerapannya, Dosen Departemen Teknik Lingkungan ini menjelaskan bahwa telur-telur BSF harus disiapkan untuk ditetaskan terlebih dahulu. Setelahnya, telur akan berubah menjadi prepupa. Ketika berusia lima hari, prepupa inilah yang kemudian dicampur dengan sampah sisa makanan yang telah dicacah. “Pada usia tersebut, prepupa BSF sangat lapar dan dapat mereduksi hingga 70 sampai 80 persen sampah organik yang ada,” imbuhnya

Anggota tim KKN Abmas ITS menyiapkan sampah cacahan untuk pakan prepupa lalat BSF

Arseto, sapaan akrabnya menyebutkan bahwa produk yang dihasilkan dari komposting BSF ini sangat potensial untuk dijual karena pasarnya yang masif. Namun, lantaran metode yang digunakan masih tergolong baru dan perlu evaluasi untuk praktik lebih lanjut, maka produk berupa magot hanya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat yang memiliki binatang ternak. Sedangkan kasgotnya dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk membuat pupuk organik.

Lebih lanjut, TPS 3R Guci Mas Indah dipilih lantaran memiliki potensi besar untuk pemberdayaannya. Misalnya saja jumlah sampah yang datang ke TPS ini dapat mencapai dua ton per hari. Dimana 60 persen diantaranya merupakan sampah sisa makanan, sehingga para pekerja di TPS tersebut yang sudah tidak asing lagi dengan pengolahan sampah organik.

Ke depannya, Arseto bersama sepuluh mahasiswa serta enam dosen tiim KKN Abmas ITS akan mengawasi keberlanjutan penerapan komposting dengan BSF di TPS 3R Guci Mas. Tak berhenti di situ, ia bersama timnya juga akan melakukan evaluasi terhadap praktik komposting yang dilakukan di TPS 3R setelah periode waktu tertentu. “Harapannya, semoga metode ini dapat membantu pengolahah sampah organik dengan baik dan efektif,” pungkas Arseto. (*)

Reporter: Irwan Fitranto
Redaktur: Raisa Zahra Fadila