Kamis, 06 Oktober 2022
Perguruan Tinggi

Konsep Moderasi Beragama Menurut Rektor UIN Raden Intan Lampung

Konsep Moderasi Beragama Menurut Rektor UIN Raden Intan Lampung
Rektor UIN Raden Intan saat memberikan sambutan dalam acara Seminar dan Ekspos Produk Akademik bertema Sinergisitas Masyarakat dan Dunia Pendidikan dalam Moderasi Beragama

Bandar Lampung (Humas UIN RIL) – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Prof Wan Jamaluddin Z MAg PhD, mengungkapkan konsep, prinsip, serta strategi agar moderasi beragama bisa mengalami akselerasi dan penguatan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Rektor, moderasi beragama memiliki arti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan moral dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu di tengah keberagaman dan kebhinekaan fakta sosial yang melingkupi kita.

Hal tersebut diungkapkan Rektor saat membuka acara Seminar dan Ekspos Produk Akademik yang bertema Sinergisitas Masyarakat dan Dunia Pendidikan dalam Moderasi Beragama di Ballroom Academic and Research Center, Rabu (21/9).

Rektor mengatakan bahwa moderasi bukanlah hal baru bagi umat Islam. “Perilaku dan contoh teladan Baginda Nabi Muhammad SAW yang terabadikan dalam tradisi-tradisi profetik melalui serangkaian hadist dan atsar para sahabat, sesungguhnya menyajikan betapa kayanya konsep-konsep dan praktek nyata moderasi beragama dalam khazanah Islam,” ucapnya dalam acara yang bekerjasama dengan Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta ini.

Lebih lanjut Rektor menjelaskan enam prinsip dalam moderasi beragama. Pertama, tawasuth yakni, mengambil jalan tengah dari realitas ekstrem yang ada di kehidupan kita baik ekstremitas kanan maupun ekstremitas kiri. Kedua, tawazun yaitu menjunjung tinggi keadilan tidak berpihak kepada satu kelompok dan mendiskriminasikan kelompok lainnya.

Ketiga, i’tidal, yaitu sikap lurus dan tegas dalam menyikapi setiap kebaikan dalam kehidupan kita. “Seringkali kita mempraktekkan ini dalam gerakan shalat di mana setelah rukuk kita bangun itu adalah gerakan i’tidal. Yang mencerminkan bahwa sikap dan perilaku serta pemahaman kita hendaklah lurus dan tegas di dalam menghadapi beraneka problem kehidupan sehari-hari,” jelas Rektor.

Keempat, tasamuh atau toleransi, lanjut Rektor, kita dilahirkan di dalam kebhinekaan yang luar biasa beragam, maka toleransi menjadi salah satu prinsip di dalam beragama secara moderat. Kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu yang dari sananya memang ditakdirkan harus berbeda kemudian kita harus paksakan semua itu menjadi sama dan satu warna saja.

Kelima, musawah atau egaliter (setara), dalam hidup ini kita harus membangun ide dan pandangan yang egalitarianisme. Bahwa antara suku satu dengan suku lainnya, antara bangsa satu dengan bangsa lainnya, antara budaya satu dengan budaya lainnya, antara agama satu dengan agama lainnya, bahkan dalam satu agama pun haruslah punya dan hidup prinsip egalitarianisme, yakni persamaan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

“Hal ini bukan berarti bahwa kita menafikan perbedaan ataupun keragaman sosial di tengah masyarakat. Semua itu diajarkan dalam Islam untuk dapat dihadapi secara dewasa,” terang Rektor.

Keenam, musyawarah, Rektor mengatakan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa diatasi tidak ada problematika yang tidak bisa ditangani, ketika kita mengedepankan prinsip dan semangat musyawarah dalam kehidupan.

Sebagai penutup, Rektor menyampaikan bahwa sebagai perguruan tinggi UIN Raden Intan Lampung memiliki komitmen pengembangan keilmuan sains dan teknologi, serta keagamaan yang menginternalisasi prinsip-prinsip moderasi beragama tersebut.

Sementara itu, Kepala BLA Jakarta, Dr Samidi SAg MSi menuturkan bahwa kegiatan BLA di UIN RIL ini adalah sebagai salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat agar bisa membangun bersama.

“Ini sebagai bentuk kampanye kita yakni dalam melakukan gerakan moderasi beragama yang sudah merupakan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional),” ujar Samidi.

Dia juga memaparkan bahwa indeks kerukunan umat beragama di Lampung cukup tinggi, cukup membanggakan, baik dari toleransi kesetaraan dan kerjasama. “Hal ini menjadi modal bersama, untuk pembangunan masyarakat, SDM, dan modal untuk masyarakat Lampung,” paparnya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 21-22 September 2022 ini, menyajikan rangkaian Seminar Panel yang menghadirkan berbagai narasumber diantaranya Anggota Komisi VIII DPR RI I Komang Koheri SE, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Lampung Puji Raharjo SAg SS MHum, Dr Safari Daud MSosI (Wakil Rektor II UIN RIL) dan Dr Idrus Ruslan MAg (WR III UIN RIL).

Selain seminar, kegiatan yang dihadiri oleh para pejabat di lingkungan UIN RIL, para penyuluh agama dari berbagai daerah dan ratusan mahasiswa UIN RIL ini juga menggelar pameran buku dan hasil-hasil produk akademik lainnya.

Disamping itu dilakukan pula penandatanganan kesepakatan kerjasama antara UIN Raden Intan Lampung dan BLA Jakarta tentang peningkatan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi dalam pembangunan bidang agama dan keagamaan, dan juga antara UIN Raden Intan Lampung dan Kemenag Provinsi Lampung tentang pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. (An/HI)